Marching Band SMPN 3 Ciawigebang Kuningan

Pembentukan mental peserta didik.

Candi Borobudur

Warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan.

Tarian Tradisional

Melestarikan warisan budaya.

Pantai Parangtritis

Menikmati keindahan Alam Nusantara.

Benteng Belanda

Peninggalan Penjajah.

PARIWISATA KABUPATEN KUNINGAN ; POTENSI, PELUANG DAN TANTANGAN

“Tourism is an activity that individuals do and usually enjoy. To understand much of the tourism phenomenon, wemust understand individual behavior – the psychology of tourist and potential tourist” (Steven. L.J. Smith, 2 ; 1989).

“Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktif lainnya. Selanjutnya sebagai sektor yang kompleks, ia juga merealisasi industri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan dan cinderamata. Penginapan dan transportasi secara ekonomis juga dipandang sebagai industri” (Salah Wahab, 9 : 1975).

Sebagai sebuah kabupaten yang mengandalkan pendapatan salah satunya dari sector pariwisata, Kabupaten Kuningan sudah selayaknya memperhatikan kaidah-kaidah yang berkaitan dengan pariwisata, baik itu potensinya, perkembangannya maupun berbagai manfaat yang dapat diambil dari padanya. Pembahasan pariwisata lazimnya berisi tentang potensi, perkembangan, peluang, hambatan dan manfaat pariwisata. Kita akan bertanya kalau daerah ini ingin mengandalkan penghasilannya dari pariwisata berarti harus melakukan analisis SWOT terlebih dahulu, sehingga dapat tergambar secara jelas hal-hal yang harus dan akan dikerjakan.

Sebagai sebuah industry baru, pariwisata menjanjikan sebuah keuntungan yang potensial yang dapat melibatkan banyak stake holder yang berperan didalamnya. Sehingga wajar apabila banyak Negara maju di dunia ini yang dengan rela merogoh anggaran yang sangat besar untuk mengembangkan sector ini.

Selanjutnya kita akan menelaah Kabupaten Kuningan yang dalam salah satu misinya ingin mengembangkan sector ini. Kita mulai dari potensi yang dimiliki. Kabupaten Kuningan adalah salah satu kabupaten yang berdomisili di kaki Gunung Ciremai yang sudah mewarisi keindahan alam dan kenyamanan cuaca untuk bertempat tinggal. Ini sebuah potensi bernilai yang bisa dijadikan sebagai daya tarik bagi wisatawan. Potensi alam yang dimiliki Kabupaten Kuningan menjadi andalan untuk menarik wisatawan yang menyenangi keindahan alam, panorama yang menakjubkan yang dapat dilihat di beberapa tempat di Kabupatem Kuningan, misalnya objek wisata Waduk Darma, Talaga Remis, Desa Sitonjul, dll.

Potensi lainnya adalah keindahan budaya yang dimiliki oleh warga Kabupaten Kuningan yang memiliki nilai jual yang cukup profitable, diantaranya adalah Upacara Seren Tahun yang setiap tahun dilaksanakan oleh comunitas Madrais di Cigugur, Saptonan, Gedung Naskah Perundingan Linggarjati, Taman Purbakala Cipariu, dll.

Gua Maria di Cisantana dapat dimasukkan sebagai sebuah potensi pariwisata religi, karena dapat menarik wisatawan nasrani untuk mengunjunginya. Selain itu ada pula Balong Karamat Darmaloka, Sumur Tujuh Cibulan dll.

Potensi lain yang dimiliki oleh Kabupaten Kuningan untuk mengembangkan pariwisatanya adalah ketercapaian daerah dari Kabupaten lain seperti Cirebon, Tegal, Brebes, Ciamis dll cukup dekat, dan dapat dijangkau dengan jalan darat selama beberapa jam saja.selain itu jalan menuju hamper semua objek wisata di Kabupaten Kuningan sudah cukup baik kondisinya.

Dari beberapa potensi yang dimiliki di atas, dapat kita analisis kekurangannya agar dapat diperbaiki demi optimalisasi potensi itu. Kondisi objek wisata di Kabupaten Kuningan sebagian besar dalam kondisi yang kurang refresentatif untuk dimasukkan sebagai daerah tujuan wisata, karena beberapa kelemahan yang dapat kita amati diantaranya sebagai berikut ;

1. Kebersihan lokasi wisata tidak terjaga, tempat sampah tidak tersedia dengan baik dan jumlahnya tidak memenuhi standar, sehingga pengunjung dan pedagang di lokasi objek wisata membuang sampah bukan pada tempatnya, hal ini merusak keindahan objek wisata tersebut dan meninmbulkan ketidaknyamanan pengunjung

2. Pedagang yang ada di objek wisata tidak selayaknya seperti pedagang di tempat wisata. Selain harga jual barang dagangannya yang cenderung tidak normal (jauh lebih mahal dari harga umum di luar objek wisata), kualitas barang dagangannya juga tidak bermutu tinggi, selain itu pelayanan pelanggannya pun belum professional

3. Sarana dan prasarana pengangkutan dari dan ke objek wisata belum memadai, baru beberapa objek wisata yang mudah transportasinya. Ongkos angkutan umum pun yang menuju ke objek wisata ataupun sebaliknya kadang tidak standar

4. Pelayanan petugas objek wisata di Kabupaten Kuningan sebagian besar tidak professional. Petugas hanya bekerja sebagai pegawai atau karyawan objek wisata, mereka tidak berperan sebagai pelayan wisatawan, dan tidak bersikap sebagaimana mestinya agar wisatawan tersebut mau kembali lagi di lain waktu. Baru segelintir petugas yang bertindak professional, itu pun terbatas di objek wisata yang dikelola oleh pihak swasta

5. Di beberapa objek wisata, ketersediaan souvenir yang berkualitas bagus dan harganya wajar juga belum tersedia. Ketersediaan souvenir di sejumlah objek wisata kualitasnya jauh dari baik, tetapi harganya sangat mahal.

Langkah Optimalisasi

Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kuningan, salah satu cara yang dapat ditempuh selain menggali potensi wisata yang belum tergarap, adalah dengan optimalisasi potensi yang sudah ada, yaitu mengadakan beberapa perbaikan dari kelemahan tersebut di atas.

1. Terbitkan aturan yang jelas tentang pengelolaan objek wisata agar dalam bertindak, pihak yang memegang otoritas pada objek wisata tersebut dapat membuat analisis swot yang maksimal, dapat mengadakan perubahan fundamental agar objek wisatanya berkembang dengan baik

2. Setiap pemegang otoritas pada objek wisata tersebut membuat program dan strategi pengembangan dan optimalisasi dengan jelas dan terukur, yang didalmnya berisi tentang pengelolaan objek wisata, pengaturan pedagang, pengaturan parker, mengadakan pelatihan pelayanan professional di objek wisata dan lain-lain untuk mengembangkan objek wisata yang dipimpinnya.

3. Dinas Pariwisata dan kebudayaan hendaknya dihuni oleh sumber daya manusia yang “mumpuni” dalam bidang pariwisata, sehingga dapat memberikan pembinaan dan menyalurkan kebutuhan untuk pengembangan objek wisata tersebut

4. Keseriusan Pemerintah Daerah dalam menangani pariwisata di Kabupaten Kuningan harus diwujudkan dengan penganggaran yang memadai sehingga pembangunan pariwisatanya dapat optimal

5. Pembangunan sarana dan prasaran pendukung harus diprioritaskan, sehingga pengunjung dapat dengan aman dan nyaman berada di objek wisata

Peluang

Dengan analisis di atas, apabila penanganan pariwisata dan pembangunnya di Kabupaten Kuningan dilaksanakan dengan maksimal, maka peluang besar keuntungan yang akan diperoleh Kabupaten Kuningan bukan sebuah impian, melainkan menjadi sebuah realita. Beberapa peluang yang dapat diraih diantaranya :

1. Pembangunan ruas jalan tol Cileunyi – Palimanan, Cikampek – Palimanan, akan mempermudah dan memperpendek jarak dan waktu tempuh dari beberapa kota besar di sekitar Kabupaten Kuningan untuk dengan mudah berkunjung ke Kuningan.

2. Pembangunan Bandar Udara Kalijati di Kabupaten Subang juga akan mendatangkan sebuah keuntungan, karena bukan tidak mungkin wisatawan baik asing maupun domestic akan dating berkunjung ke Kuningan

Kesimpulan

Realita membuktikan bahwa kondisi pariwisata Kabupaten Kuningan masih jauh dari seperti yang diidamkan oleh sementara wisatawan, baik asing maupun domestic. Namun dengan kondisi sekarang ini jumlah wisatawan yang dating sudah cukup “banyak” untuk ukuran local. Hal ini membuktikan bahwa potensi pariwisata Kabupaten Kuningan memang sudah layak jual, apalagi kalau dibangun dengan baik dan professional dan sesuai standar pariwisata internasional.

Pendapatan daerah dari sector pariwisata akan meningkat apabila pariwisata daerahnya juga meningkat

* Artikel ini di muat di Majalah Uiversitas Kuningan "Idealisme" Terbit Januari 2009




Pembangunan Budaya Yang Tak Terjamah

Oleh Lala Bumela

Selama kurang lebih 10 tahun terakhir ini isu mengenai pembentukan provinsi Cirebon semakin akrab terdengar di ruang publik. Isu berbau politik ini semakin mengemuka dalam diskursus sosial masyarakat Jawa Barat khususnya yang berada di kawasan Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) terutama menjelang Pilkada Jawa Barat yang dilaksanakan tahun lalu. Konon, masyarakat di empat kawasan ini kecewa berat dikarenakan merasa tidak pernah diperhatikan secara serius baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah Jawa Barat. Isu-isu yang berkaitan dengan pembangunan menjadi penyulut kekecewaan mereka.

Tidak dapat dipungkiri bahwa memang selama ini aroma pembangunan terasa berjalan lambat di keempat kawasan ini. Akses-akses terhadap sumber ekonomi yang jumlahnya tidak banyak terbukti telah membatasi ruang kehidupan masyarakat Ciayumajakuning. Homogenitas menjadi penghambat mobilitas kehidupan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila sebagian besar lulusan SMA dan universitas di keempat kawasan ini menggantungkan harapan hidupnya pada sebuah “status agung” PNS (Pegawai Negeri Sipil). Menjadi pengusaha masih merupakan pilihan yang tidak terlalu aman dan menjanjikan. Bagi banyak orang, urbanisasi menjadi satu-satunya pilihan terbaik untuk menjamin kehidupan. Tak sedikit yang meraih sukses di kawasan urban, tapi tak sedikit pula yang gagal meraih mimpi. Namun, sedikit sekali yang mau kembali ke daerah asal untuk ikut serta dalam nafas pembangunan. Hal ini tentu saja melahirkan masalah demografi yang cukup pelik untuk dipecahkan.

Memang sangat masuk akal bila masyarakat di kawasan Ciayumajakuning ini merasa resah mengenai gaung pembangunan di daerahnya masing-masing. Tak ada yang bisa membantah bahwa pembangunan selalu berdampak pada kemampuan ekonomi sebuah masyarakat. Jika laju pembanguna terasa stagnan, maka masyarakat tak punya banyak pilihan untuk menggelontorkan roda kehidupannya. Namun, alangkah baiknya bila kita mampu bersikap lebih kritis atas apa yang terjadi selama ini di dalam kehidupan kita.

Pembentukan sebuah provinsi baru di Indonesia yang lebih dikenal dengan istilah pemekaran selalu dilandaskan pada sebuah alasan klasik bernama “kesejahteraan” yang berada dalam domain ekonomi. Para perancang pemekaran sebuah tata pemerintahan baru di banyak daerah hanya berkutat pada masalah pembangunan ekonomi rakyatnya. Padahal pembangunan tidak hanya terdiri dari elemen ekonomi. Pembangunan tidak bisa dipersepsi dari aspek ekonomi saja karena ia merupakan sebuah entitas utuh yang terdiri banyak elemen.

Aspek-aspek budaya dan identitas kultural seringkali tak terjamah oleh dinamika pembangunan kita sekarang ini. Terma budaya yang digunakan dalam tulisan ini mencakup konsep-konsep yang sangat luas namun mendasar bagi hidup dan kehidupan manusia: cara berfikir dan bertindak suatu kelompok masyarakat, simbol-simbol kehidupan yang direpresantsaikan lewat bahasa, seni, dan tradisi, serta nilai-nilai moralitas kehidupan yang dipercaya dan mendasari roda kehidupan masyarakat itu (inheren dalam terma budaya ini adalah institusi pendidikan dan teknologi). Kaum yang menghambakan dirinya pada Cultural Studies sangat memercayai bahwa kegagalan pembangunan lebih disebabkan oleh kegagalan memelihara, melestarikan dan mengembangkan sumber-sumber kekuatan budaya sebuah kelompok masyarakat.

Melihat kondisi Indonesia yang semakin tak tentu arah, penulis pun lambat laun menyadari bahwa hipotesa tersebut semakin mendekati kebenaran yang nyata. Kemiskinan yang melanda Indonesia bukan karena kita tidak memiliki sumber-sumber ekonomi yang mapan. Bukan pula karena kita tidak memiliki kekayaan alam. Justru dengan segala kekayaan alam yang melimpah dan begitu banyak sumber pendukung untuk menjadi negara yang memiliki peradaban tinggi, Indonesia malah menjadi negara pesakitan. Ini bukti nyata bahwa Indonesia yang korup, bodoh, malas, dan miskin merupakan akibat kegagalan membangun budaya. Kegagalan pembangunan budaya ini berdampak pada pola pikir dan mental yang super bobrok seperti yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Kegagalan budaya selalu berimbas pada rusaknya aspek-aspek kehidupan suatu bangsa. Keadaan ini tentu saja melahirkan banyak penderitaan dan kesengsaraan yang tak bertepi. Dalam terma yang diperkenalkan Noam Chomsky pada tahun 2005, Indonesia termasuk dalam kategori negara gagal (failed state).

Identitas, Bahasa dan Hegemoni

Mimpi tentang pembentukan provinsi Cirebon nampaknya harus dikaji dengan sangat cermat, bukan hanya menggunakan pertimbangan politik dan ekonomi tapi juga harus mengadopsi pertimbangan budaya yang inheren dalam khasanah geografis kawasan Ciayumajakuning itu sendiri. Bila pembangunan tidak mau menjamah aspek-aspek kultural yang mengikat hidup dan kehidupan suatu masyarakat, maka dominasi sebuah kelompok terhadap kelompok masyarakat yang lain takkan dapat dihindari. Dominasi ini akan melahirkan hegemoni sosial, politik dan ekonomi yang menyebabkan runtuhnya pundi-pundi persatuan.

Dua kelompok kultural yang hidup di kawasan Ciayumajakuning adalah Sunda (Kuningan dan Majalengka) dan Cirebon (termasuk Indramayu). Penanda utama dari eksistensi kedua kelompok budaya ini adalah bahasa. Bahasa Sunda digunakan secara masif di Kuningan dan Majalengka, sementara bahasa Cirebon (konon tidak mau diklaim sebagai dialek bahasa Jawa) menjadi lingua franca di kawasan Cirebon dan Indramayu. Beberapa waktu yang lalu pemerintah Indramayu pun mengklaim bahwa bahasa yang digunakan di Indramayu bukan bahasa Cirebon atau bahasa Jawa tapi bahasa Indramayu (Dermayu).

Hal ini tentu saja mengundang polemik yang berkepanjangan di kalangan para linguis mengingat secara historis baik bahasa Cirebon maupun Indramayu adalah merupakan “titisan” bahasa Jawa. Ini dikarenakan Cirebon dan Indramayu memang pada zaman dulu merupakan tujuan migrasi orang-orang Jawa yang terkait dengan sejarah perkembangan Islam. Namun, pada perkembangan selanjutnya orang-orang Cirebon mendeklarasikan identitas baru mereka yang bukan Jawa maupun Sunda tapi Cirebon. Identitas ini didasarkan pada fakta bahwa bahasa Cirebon memiliki karakteristik yang berbeda dalam variasi kosakata dengan bahasa Jawa. Bila dikaji secara sosiolinguistik, baik bahasa Cirebon maupun Indramayu merupakan dialek dari bahasa Jawa yang telah lama hidup, bukan merupakan bahasa baru.

Fakta mengenai bahasa dan identitas ini sangat menarik untuk ditelisik karena beberapa alasan. Pertama, terma bahasa dan identitas merupakan konsep yang inheren dalam budaya dan kedua terma ini menjadi penanda sebuah eksistensi sebuah kelompok masyarakat, sehingga bila aura pembangunan tidak menyentuh kedua hal ini dapat dipastikan konflik identitas bakal terjadi. Kedua, perbedaan latar belakang bahasa dan budaya selalu berdampak pada perbedaan cara berfikir dan bersikap. Perbedaan ini cenderung melahirkan kepentingan yang berbeda pula. Ketiga, perbedaan budaya mewajibkan para anggota kelompok masayarakat dari kedua kubu untuk memiliki pemahaman yang solid mengenai intercultural communication. Untuk membangun sebuah peradaban tinggi, masyarakat yang terlibat di dalamnya harus dituntut untuk menjadi komunikator-komunikator antarbudaya yang unggul sehingga toleransi yang tinggi terhadap berbagai perbedaan dapat lahir, berkembang dan dipelihara dengan baik. Berbagai masalah dipastikan lahir dan beranak pinak apabila para perencana dan pelaksana pembangunan tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai komunikasi antarbudaya ini apalagi jika mereka tidak mempromosikan hal ini kepada masyarakat. Masyarakat bukan hanya harus disadarkan ihwal pentingnya komunikasi antarbudaya tapi juga mesti dilatih dan dididik untur beradaptasi terhadap perbedaan budaya agar hegemoni dapat dihindari.

Hegemoni menjadi bahasan penting dalam pembangunan karena sebuah proses pembangunan seringkali berdampak pada ketidakadilan dan ketimpangan. Hegemoni merupakan konsep utama analisis Gramsci mengenai kapitalisme Barat dan strategi revolusioner di kawasan Eropa Barat (Gramsci 1971; Buci-Glucksman 1980). Seiring dengan pemikiran Gramsci, Fairclough (1992) mendefinisikan hegemoni sebagai “…leadership as much as domination across the economic, political, cultural and ideological domains of a society.” Fairclough lebih jauh menandaskan bahwa hegemoni bisa bersifat ideologis & terinternalisasi dalam bahasa. Misalnya saja, penulis sering menemukan fakta bahwa dalam pamflet pariwisata yang melibatkan salah satu hotel ternama di kawasan Sangkanurip, nama “Kuningan” selalu di-backgrounded dengan cara ukuran hurufnya dicetak lebih kecil ketimbang nama “Cirebon”. Ini mengimplikasikan image bahwa seolah-olah Kuningan adalah bagian dari Cirebon, dan Cirebon lebih superior dari Kuningan.

Contoh lain yang lebih meresahkan penulis (sebagai orang asli Kuningan) adalah bahwa pada sebuah buku sejarah yang digunakan penulis sewaktu belajar di sekolah dasar, Gedung Linggar Jati yang memiliki nilai historis yang begitu tinggi ternyata disebutkan berada di kawasan Cirebon. Teman-teman kuliah penulis yang pernah berkunjung ke beberapa tempat wisata di Kuningan pun keukeuh bahwa Kolam Ikan Cigugur dan Cibulan berada di Cirebon karena mendapat informasi salah dari gurunya. Dan apabila suatu saat provinsi baru itu bernama “Cirebon”, maka para perencana pemekaran wilayah jelas tidak memiliki sensitifitas kultural yang tajam. Begitu pula dengan penggunaan nama Ciayumajakuning. Akronim ini, bila ditinjau berdasarkan analisis paham strukturalisme, bisa mengimplikasikan bahwa Cirebon dan Indramayu (yang disebut pertama) merupakan pihak yang paling berkepentingan dalam pembentukan provinsi baru & paling superior di antara dua yang lain. Asumsi lain yang mungkin lahir dari akronim ini adalah bahwa dua daerah lain (Majalengka dan Kuningan) merupakan inferior saja dan diposisikan secara diskursif sebagai elemen linguistik yang di-backgrounded.

Penulis berharap bahwa hal-hal di atas tidak terjadi lagi di masa depan karena insiden itu dianggap sebagai pelanggaran ideologis yang begitu halus sehingga orang akan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dan sudah begitu adanya (taken-for-granted disposition). Fairclough (1989) dalam bukunya Language and Power telah memberi contoh secara gamblang bagaimana praktek-praktek diskursus sosial dapat teridentifikasi secara analitis lewat penggunaan bahasa. Kemauan kita untuk berfikir lebih kritis akan menuntun kita menjadi warga negara yang memahami arti penting sebuah penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan pembangunan identitas yang (sekali lagi) inheren dalam budaya. Pembangunan budaya yang berkesinambungan hanya akan terlaksana bila anggota masyarakat memiliki kesadaran kritis yang baik.

Penutup

Raymond Williams (1983) menyatakan bahwa konsep budaya (culture) adalah salah satu kata dalam bahasa Inggris yang paling kompleks untuk didefinisikan. Ia menyarankan agar kita tidak terlalu berkutat pada pertanyaan “what is culture?” Yang jauh lebih penting untuk dibahas adalah “how we talk about culture and for what purposes”. Dalam konteks pembangunan, budaya harus menjadi dasar pijakan sebuah rencana pembangunan. Pembangunan budaya harus menjadi fondasi pembangunan aspek-aspek kehidupan manusia. Isu-isu mengenai pembentukan karakter, fisik dan mental, peningkatan kemampuan berpikir kritis yang diwarnai kejujuran, keberanian, kepedulian sosial, dan penghormatan atas perbedaan harus lebih dulu mengemuka dan mengakar kuat di benak para perencana pembangunan ketimbang isu investasi asing dan ekspor impor.

Telah banyak fakta yang terkuak bahwa sebuah pemekaran kabupaten/kota ataupun provinsi tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Uang pemekaran wilayah yang bernilai truliunan rupiah itu lebih banyak menguap tanpa bisa dijelaskan secara rasional. Telah banyak cerita yang lahir pula bahwa pemekaran sebuah wilayah administratif hanya melahirkan “raja-raja” baru yang berkoloni dalam mleanggengkan sebuah bentuk kekuasaan baru. Yang terjadi kemudian adalah praktik suap, korupsi dan pungutan liar menjamur dengan cepat. Akibatnya adalah rakyat tetaplah menjalani hidup yang nestapa. Bila sebuah pemekaran hanya melahirkan cerita-cerita yang mengenaskan, maka tidak salah bila Indonesia mendapat julukan negara yang mencintai kesia-siaan. Lebih parah lagi kalau kita secara tidak sadar mendukung sepenuh hati kesia-siaan tersebut.

Penulis adalah mahasiswa master jurusan Applied Linguistics Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, lahir di Kuningan.

[Tulisan ini dibuat sebagai respon atas semakin menguatnya isu pembentukan Provinsi Cirebon baru-baru ini. Saya mengajak pembaca terutama masyarakat Kuningan agar mampu melihat fenomena ini dengan kritis. Feedback dan komentar mengenai isu ini bisa dikirim ke email saya di elbibestralen@gmail.com atau di-post ke akun Facebook saya. Terima Kasih]



MANUSIA SEBAGAI MAHLUK BUDAYA

LUIS LEAHLY (1984 : 212 – 213) : MANUSIA ITU SEKALIGUS BADAN DAN JIWA, MATERI DAN ROH. LEWAT ROH MANUSIA MENGURAS DAN MENINGKATKAN SETINGGI-TINGGINYADAYA INDERA DAN NALURI, DAYA TUMBUH-TUMBUHAN DAN MATERI YANG MASIH POTENSIAL... LEWAT ROH MAMPU MENGUMANDANGKAN HAL-HAL ILLAHI, MASUK KE KEHIDUPAN RELASIONAL DAN SOSIAL YANG MEMUNGKINKAN MANUSIA KREATIF DAN MEMASUKI DUNIA RELIGIUS DAN MORAL.

HASIL-HASIL PERKEMBANGAN MANUSIA YANG MELEBIHI MAHLUK LAIN MELALUI INTERVENSI INTELEGENSI DAN KEBEBASAN MENJADIKAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK BUDAYA. MEMBUDAYAKAN MANUSIA MERUPAKAN TUNTUTAN KODRATNYA SEBAGAI MAHLUK BERAKAL BUDI.

AKAL SEMAKIN BERKEMBANG KOMPLEKS DENGAN ADANYA ALAT KOMUNIKASI BAHASA, DEMIKIAN PULA SEBALIKNYA BAHASA DIPERKEMBANGKAN OLEH AKAL, KEMUDIAN DISEMPURNAKAN MELALUI PROSES BELAJAR.

MANUSIA DAPAT BELAJAR DENGAN ADANYA BAHASA DAN AKAL TERSEBUT.

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

  1. MASLOW :
    1. PSIKOLOGIS (FAALI)
    2. KESELAMATAN
    3. RASA MEMILIKI DAN RASA CINTA
    4. HARGA DIRI
    5. PERWUJUDAN DIRI
  2. MALINOWSKI
    1. MAKANAN
    2. REPRODUKSI
    3. KENYAMANAN TUBUH
    4. KEAMANAN
    5. KEBUTUHAN GERAK
    6. TUMBUH

UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN MANUSIA MENYESUAIKAN DIRI DENGAN KEADAAN (FISIS DETERMINIS) SETEMPAT SESUAI DENGAN LINGKUNGANNYA, KARENA ITU MANIFESTASINYA BERLAINAN, TIMBULLAH VARIASI KEBUDAYAAN.

DORONGAN DASAR MANUSIA (BASIC DRIVE)

  1. MEMPERTAHANKAN DIRI
  2. MELANJUTKAN KETURUNAN
  3. MENYATAKAN DIRI

UNTUK MEMANUSIAKAN MANUSIA, PERLU DIKENALKAN

KONSEP-KONSEP BUDAYA DASAR

1) MANUSIA DAN KEADILAN.

KEADILAN MERUPAKAN SALAH SATU MODAL DASAR BAGI KEHIDUPAN TERARTUR MANUSIA. KEADILAN MENGACU SUATU TINDAKAN BAIK BAGI KEHIDUPAN YANG MESTI DILAKUKAN OLEH SETIAP MANUSIA.

ADIL ARTINYA TIDAK BERAT SEBELAH ATAU TIDAK MEMIHAK ATAUPUN TIDAK SEWENANG-WENANG, SEHINGGA KEADILAN MENGANDUNG PENGERTIAN SEBAGAI SUATU HAL YANG TIDAK BERAT SEBELAH ATAU TIDAK MEMIHAK ATAU TIDAK SEWENANG-WENANG

2) MANUSIA DAN PENDERITAAN.

PENDERITAAN ADALAH RASA TIDAK MENYENANGKAN YANG SETIAP ORANG SECARA KEMANUSIAAN INGIN MENGHINDARINYA. INI MELENGKAPI CIRI PARADOKSAL YANG MENANDAI EKSISTENSI MANUSIA DI DUNIA.

BERASAL DARI KATA DRHA (SANSEKERTA) ARTINYA MENANGGUNG ATAU MENAHAN

BERARTI JUGA MENANGGUNG (MERASAKAN) SESUATU YANG TIDAK MENYENANGKAN

UNTUK MENGHADAPI PENDERITAAN FISIK DIATASI DENGAN MEDIS, SEDANGKAN PENDERITAAN MENTAL ATAU PSIKIS DAPAT DIBANTU OLEH AHLI SEPERTI PSIKIATER ATAU PSIKOLOG

HAL-HAL YANG DAPAT MENIMBULKAN PENDERITAAN ADALAH :

1. SIKSAAN

- KEBIMBANGAN

- KESEPIAN

- KETAKUTAN

2. KEKALUTAN MENTAL

3) MANUSIA DAN CINTA KASIH.

CINTA KASIH ADALAH PERASAAN SUKA KEPADA SESEORANG YANG DISERTAI DENGAN BELAS KASIH DAN KEMESRAAN. CINTA MERUPAKAN SIKAP DASAR IDEAL YANG MEMUNGKINKAN DIMENSI SOSIAL MANUSIA MENEMUKAN BENTUKNYA YANG KHAS MANUSIAWI.

TINGKATAN CINTA BERDASARKAN PERKEMBANGAN MANUSIA :

- FASE ANAK-ANAK

- FASE REMAJA

- FASE MASA TUA

PERBEDAAN CINTA DENGAN NAFSU :

1. CINTA BERSIFAT MANUSIAWI, NAFSU CENDERUNG SYETAN

2. CINTA BERSIFAT ROHANIAH, NAFSU JASMANIAH

3. CINTA PERILAKU MEMBERI, NAFSU PERILAKU MENUNTUT

4) MANUSIA DAN TANGUNG JAWAB.

TANGGUNG JAWAB ADALAH KEWAJIBAN MELAKUKAN KEHARUSAN TUGAS TERTENTU. DASAR TANGGUNG JAWAB ADALAH HAKEKAT KEBERADAAN MANUSIA SEBAGAI MAHLUK YANG MAU MENJADI BAIK DAN MEMEPEROLEH KEBAHAGIAAN.

5) MANUSIA DAN PENGABDIAN.

PENGABDIAN DIARTIKAN SEBAGAI PERIHAL PERILAKU BERBAKTI ATAU MEPERHAMBA DIRI KEPADA TUGAS YANG (DIANGGAP) MULIA.

6) MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP.

PANDANGAN HIDUP BERKENAAN DENGAN EKSISTENSI MANUSIA DI DUNIA DALAM HUBUNGANNYA DENGAN TUHAN, DENGAN SESAMA DAN DENGAN ALAM TEMPAT KITA BERDIAM.

PANDANGAN HIDUP ADALAH BAGAIMANA MANUSIA MEMANDANG KEHIDUPAN ATAU BAGAIMANA MANUSIA MEMILIKI KONSEPSI TENTANG KEHIDUPAN

ALIRAN PANDANGAN HIDUP :

1. EKONOMI

2. POLITIK

3. SOSIAL

4. PENGETAHUAN

5. SENI

6. AGAMA

7) MANUSIA DAN KEINDAHAN.

EKSISTENSI MANUSIA DI DUNIA DILIPUTI OLEH KEINDAHAN. MANUSIA TIDAK HANYA PENERIMA PASIF TETAPI JUGA PENCIPTA KEINDAHAN BAGI KEHIDUPAN.

SALAH SATU KEINDAHAN YANG DICIPTAKAN OLEH MANUSIA ADALAH KESENIAN. KESENIAN DAPAT DINIKMATI OLEH DUA MACAM INDERA, YAITU MATA DAN TELINGA ATAU OLEH KEDUANYA SEKALIGUS

MACAM KESENIAN :

1. SENI RUPA

2. SENI SUARA

3. SENI PERTUNJUKAN.



SOSIOLOGI, EKONOMI, DAN POLITIK

ILMU SOSIAL PADA HAKEKATNYA BERBICARA TENTANG OBJEK YANG SAMA YAITU MASYARAKAT

MASYARAKAT ADALAH KUMPULAN MANUSIA YANG TINGGAL PADA SUATU WILAYAH YANG SAMA DALAM WAKTU YANG RELATIF LAMA DAN MEMILIKI KARAKTERISTIK TERSENDIRI

ILMU SOSIAL MEMAHAMI, MENELAAH, MENELITI, MENCARI PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA MASYARAKAT YANG SATU DENGAN YANG LAINNYA

ILMU SOSIAL MEMAHAMI TINGKAH LAKU INDIVIDU DALAM MASYARAKAT, DAN TINGKAH LAKU MASYARAKAT SEBAGAI KUMPULAN INDIVIDU DENGAN KELOMPOK MASYARAKAT YANG LAIN

MENCOBA MEMAHAMI, MENELITI, MENEMUKAN PERBEDAAN DAN PERSAMAAN INTERAKSI INDIVIDU DALAM MASYARAKAT DAN INTERAKSI MASYARKAT DENGAN KELOMPOK MASYARAKAT LAIN

PERBEDAAN ILMU SOSIAL

DIMENSI DAN SUDUT PANDANGNYA DALAM MEMAHAMI, MENELAAH DAN MENCERMATI MASYARAKAT BERBEDA

ILMU EKONOMI MEMAHAMI, MENELAAH DAN MENCERMATIKEHIDUPAN INDIVIDU DAN MASYARAKAT DALAM MEMENUHI KEBUTUHANNYA (MEMPRODUKSI, MENGONSUMSI BARANG DAN JASA YANG TERBATAS DALAM MASYARAKAT

ILMU POLITIK MEMAHAMI TENTANG HAK DAN WEWENANG, KEKUASAAN, PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN DALAM MASYARAKAT SERTA KONFLIK YANG TERJADI AKIBAT DARI DISTRIBUSI DAN ALOKASI BARANG-BARANG YANG DIANGGAP BERNILAI DALAM MASYARAKAT

ILMU SOSIOLOGI MEMAHAMI TENTANG STRUKTUR SOSIAL, LEMBAGA SOSIAL, LAPISAN SOSIAL, PERUBAHAN SOSIAL, INTERAKSI SOSIAL, MOBILITAS SOSIAL DAN MODERNISASI

HUBUNGAN EKONOMI, SOSIOLOGI DAN POLITIK

KETIGA DISIPLIN ILMU MEMBICARAKAN DAN MENELAAH OBJEK YANG SAMA ; MANUSIA, BAIK SEBAGAI INDIVIDU MAUPUN KELOMPOK MASYARAKAT. TINGKAH LAKU INDIVIDU MAUPUN KELOMPOK DALAM MASYARAKAT. GEJALA SOSIAL SEBAGAI AKIBAT INTERAKSI, STATUS DAN PERAN DALAM MASYARAKAT

POINT VIEW KETIGA DISIPLIN ILMU ITU BERBEDA

HUBUNGAN KETIGANYA MENGHASILKAN CABANG ILMU YANG LAIN. SOSIOLOGI DAN POLITIK MENGHASILKAN SOSIOLOGI POLITIK, TOKOHNYA MAURICE DUVERGER. SOSIOLOGI DENGAN EKONOMI MENGHASILKAN SOSIOLOGI EKONOMI TOKONYA J. SMELSER. SKONOMI DENGAN POLITIK MENGHASILKAN EKONOMI POLITIK

FAKTOR EKONOMI UMUM

  1. EKONOMI DOMINAN SETEMPAT
  2. SUMBERDAYA ALAM
  3. KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA
  4. KEMUNGKINAN TEKNOLOGI BARU

FAKTOR-FAKTOR NON EKONOMI

  1. SIKAP MASYARAKAT SETEMPAT TERHADAP PEMBANGUNAN
  2. KESEIMBANGAN KEKUATAN MEMBANGUN MASYARAKAT – PEMERINTAH
  3. POLA KEPEMIMPINAN SETEMPAT
  4. INFRASTRUKTUR FISIK DAN SOSIAL

FAKTOR EKONOMI

  1. SISTEM EKONOMI NASIONAL
  2. PERATURAN-PERATURAN MONETER
  3. KEKUATAN PESAING
  4. POTENSI PASAR
  5. SISTEM PAJAK

FAKTOR NON EKONOMI

  1. POLITIK MELIPUTI : SISTEM POLITIK NASIONAL, GOLONGAN YANG BERKUASA, STABILITAS POLITIK, KEKUASAAN BIROKRASI, HUBUNGAN SIPIL DAN MILITER
  2. HUKUM MELIPUTI : PERATURAN DEVISA, HUKUM TANAH, KESEIMBANGAN LEGISLATIF, EKSEKUTIF DAN YUDIKATIF, PERLINDUNGAN HUKUM PERUSAHAAN, KORUPSI DAN KOLUSI
  3. SOSIAL MELIPUTI : KESEIMBANGAN RURAL DAN URBAN, KESEIMBANGAN ANTARA GOLONGAN ETNIS, KESEIMBANGAN GOLONGAN AGAMA, KUALITAS PENDIDIKAN DAN KESEHATAN, KEKUATAN ORGANISASI BURUH, KESEIMBANGAN SOSIAL PRIA WANITA
  4. KULTUR MELIPUTI : ETHOS KERJA, KESEIMBANGAN RASIONALITAS DAN IRRASIONAL, KESEIMBANGAN SIKAP KOLEKTIF DAN INDIVIDULITAS, KEKUATAN ADAT TERHADAP MODERNISASI, KEMUNGKINAN TEKNOLOGI BARU



ASAL MUASAL


Dari : http://compsoc.bandungfe.net/intro/part04.html

ASAL MUASAL: lahir dari spekulasi

Hampir seluruh pendiri sosiologi (dan ilmu sosial) lahir dari spekulasi. Akibatnya, sosiologi seringkali berteman erat dengan ideologi-ideologi berat dunia: sosialisme, kapitalisme, fasisme, dan sebagainya, termasuk demokrasi sekalipun. Jalan ilmu sosial menyimpang dari ilmu-ilmu alam, karena ilmu alam relatif hampir bebas dari ideologi-ideologi tersebut. Sosiologi mungkin memang ditakdirkan menjadi peletak dasar kebijakan penguasa, dan melalui hal ini ideologi berkarib dengan sosiologi.

Bagaimana sistem sosial terbentuk dan dari mana keteraturannya muncul? Pertanyaan ini mengganggu filsuf Thomas Hobbes (1588-1679), sebagai orang pertama yang memisahkan antara negara dan masyarakat. Menurutnya keteraturan masyarakat berasal dari otoritas negara. Ketika ditanya, dari mana asalnya negara? Ia menunjukkan bahwa negara berasal dari kontrak sosial dari masyarakat primer yang melimpahkan kedaulatan, kekuasaan untuk mengatur masyarakat. Pendapat ini banyak menjadi inspirasi penelitian kontemporer belakangan ini.

Pada saat-saat ini pula, Giambattista Vico (1668-1744), filsuf Italia terkenal, melihat sisi lain dari sistem sosial. Ia memperhatikan tentang sejarah dari masyarakat. Pemikiran spekulatifnya yang terkenal adalah pendapatnya tentang sejarah siklis (dapat diartikan berulang). Mula-mula ada MASA AGAMA DEWA-DEWA, terbentuknya keluarga dan komunitas-komunitas kecil dari masyarakat yang terpecah-pecah. Masa ini diakhiri dengan MASA PAHLAWAN, masyarakat utuh terbentuk namun masih terpecah-pecah, kelas bangsawan, kelas budak, dan sebagainya. Akhirnya muncul MASA MANUSIA, di mana orang memberontak dan masyarakat hidup dalam kesetaraan tanpa strata kelas. Secara siklis hal ini berulang lagi, karena kesetaraan masyarakat tersebut membawa perpecahan dari masyarakat menjadi komunitas-komunitas kecil lagi dan seterusnya tak pernah henti.

Terinspirasi dari Vico, filsuf jerman, Georg Wilhelm Friederich Hegel (1770-1831), menyatakan bahwa masyarakat memang ber-referensi terhadap sejarahnya. Namun berbeda dengan pandangan spekulatif dari Vico, ia menunjukkan triad dialektika yang terkenal: tesis-antitesis-sintesis. Suatu hal yang (tesis) akan memunculkan lawannya (antitesis). Keduanya bergabung menjadi sintesis. Di kemudian hari, sintesis ini akan menjadi tesis lagi yang akan ditantang lagi oleh antitesis, demikian seterusnya. Yang menarik, ketika bertanya tentang bagaimana keteraturan sedemikian terjadi, Hegel mengusulkan adanya ide mutlak, ide absolut, yang menjadi referensi dari kesemua hal ini. Pikiran-pikiran ini menjadi inspirasi besar bagi banyak filsuf dan sosiolog awal-awal.

http://compsoc.bandungfe.net/intro/imgs/hobbes.jpg

Life in the state of nature is solitary, poor, nasty, brutish, and short.

Thomas Hobbes

http://compsoc.bandungfe.net/intro/imgs/vico.jpg

Uniform ideas originating among entire peoples unknown to each other must have a common ground of truth

Giambattista Vico

http://compsoc.bandungfe.net/intro/imgs/hegel.jpg

The only thing we learn from history is that we learn nothing from history.

G W F Hegel

ASAL-MUASAL: menelaah spekulasi

Auguste Comte (1798-1857), filsuf positifis Perancis, yang mencoba menyusun spekulasi-spekulasi alam filosofi ini. Ia merupakan orang yang menggunakan istilah SOSIOLOGI pertama kali, dengan terinspirasi pada fisika yang santer dikerjakan oleh bapak fisika dunia saat itu, Isaac Newton (1642-1727), sebagai ilmu yang mempelajari hukum-hukum alam. Ia menunjukkan bahwa sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hukum-hukum yang mengatur kehidupan sosial.

Telaah spekulatif Comte ini diteruskan oleh filsuf sosial Inggris, Herbert Spencer (1820-1903). Ia sangat dipengaruhi oleh biolog pencetus ide evolusi sebagai proses seleksi alam, Charles Darwin (1809-1882), dengan menunjukkan bahwa perubahan sosial juga adalah proses seleksi. Masyarakat berkembang dengan paradigma Darwinian: ada proses seleksi di dalam masyarakat kita atas individu-individunya.

http://compsoc.bandungfe.net/intro/imgs/comte.jpg

…unlike physics and chemistry, which proceed by isolating elements, biology proceeds from the study of organic wholes. And it is this emphasis on organic or organismic unity that sociology has in common with biology…there can be no scientific study of society either in its conditions or its movements, if it is separated into portions, and its divisions are studied apart. The only proper approach in sociology consists in “viewing each element in the light of the whole system… In the inorganic sciences, the elements are much better known to us than the whole which they constitute: so that in that case we must proceed from the simple to the compound…

Auguste Comte

ASAL-MUASAL: sosiologi di antara ilmu dan kepentingan kekuasaan

Dari sini mulailah sosiologi berkembang. Sejak awal kelahiranya, sosiologi menggembung sebagai ilmu yang benar-benar mempelajari tubuh masyarakat, sementara masyarakat sendiri pun tersusun atas teka-teki yang sama rumit dan sulitnya, manusia, makhluk yang memiliki kemampuan paling tinggi di seluruh permukaan bumi.

Dan semuanya memang spekulasi. awal-awal sosiologi distrukturkan adalah memang awal-awal yang penuh pandangan spekulatif. Lantas, bagaimana kabarnya kemudian. Bagaimana sosiologi akhirnya berkolaborasi dengan kekuasaan? Bagaimana ia hidup dan berkembang sehingga menjadi sandaran kebijakan negara terhadap masyarakat? Bagaimana sosiologi terkadang tercampur aduk dengan ideologi? Jawaban-jawaban pertanyaan yang diajukan belum juga terjawab. Belum lagi tatkala sosiologi lebih menggembung lagi saat harus berkaitan dengan modal dan kekayaan, uang, ekonomi. Adam Smith (1723-1790), yang ditahbiskan sebagai pendiri ilmu ekonomi mencoba memberikan jawaban. Namun, lagi-lagi, zaman itu memang zaman yang penuh spekulasi.

Smith menelurkan buah pikirannya dalam The Wealth of Nations, sebuah upaya serius yang ingin memisahkan studi politik ekonomi dari ilmu politik bahkan etika. Ia mengajak pemikir untuk fokus terhadap proses di mana kekayaan ekonomi diproduksi, terdistribusi, dan menunjukkan sumber awal dari seluruh pendapatan ekonomi manusia dan bagaimana pendapatan ini tersebar di antara manusia, mulai dari proses sewa-menyewa, gaji-menggaji, dan keuntungan dalam perdagangan. Intinya, bagi Smith, adalah bahwa proses produksi dan distribusi ini harus lepas dari campur tangan pemerintah, perdagangan bebas, laissez faire. Proses ekonomi hanya akan berjalan melalui tangan-tangan tak kelihatan yang mengatur bagaimana produksi dan distribusi kekayaan ekonomi itu berjalan secara adil. Biarkan para pengusaha, karyawan, penjual, bekerja mencari keuntungan sendiri. Siapapun tak boleh mencampurinya, karena ekonomi hanya bisa muncul dari perdagangan yang adil. Karenanya, pemerintah harus menjadi penonton tak berpihak. Ia tak boleh mendukung siapapun yang sedang menumpuk kekayaan pun yang tak lagi punya kekayaan. Tangan-tangan yang tak kelihatan akan menunjukkan bagaimana semua bekerja secara adil, secara fair.

Pandangan ini melahirkan kapitalisme. Smith yang tadinya ingin memisahkan ekonomi dari politik tak sadar bahwa justru pandangannya telah merasuki politik. Ekonomi pada masa awal telah menjadi ibu kandung dari sebuah ideologi dunia yang terus berkembang hingga saat ini, kapitalisme...

http://compsoc.bandungfe.net/intro/imgs/smith.jpg

Every individual is continually exerting himself to find out the most advantageous employment for whatever capital he can command.

Adam Smith

ASAL-MUASAL: negara, ekonomi, pemerintah, dan spekulasi tentangnya

Cerita tentang spekulasi masih terus, tapi tak lagi berbicara hal-hal di awang-awang. Para filsuf sosial mulai berbicara tentang hal-hal teknis dan bagaimana mengatur masyarakat dengan ilmu yang berdiri di atas spekulasi ini.

Karl Marx (1818-1883), filsuf sosial Jerman yang sangat terkenal itu menantang pandangan kapitalisme yang telah berhasil menjadi landasan struktur ekonomi. Dalam bukunya yang ditulis dalam 3 volume, ia menelaah apa yang tengah terjadi saat itu yang ditemuinya dalam kesehariannya. Ia dibantu sahabatnya, Frederic Engels (1820-1895), mereka berdua mendirikan sosialisme ilmiah, komunisme. Tak lagi berbicara ide-ide, berbicara soal dunia dewa-dewa, mereka membedah situasi masyarakat yang ada. Mereka melihat bagaimana kapitalisme gagal dan banyak membuat orang sengsara. Filsafatnya berusaha membumi. Namun bagaimana akibatnya? Jika Smith berusaha memisahkan ekonomi politik dengan politik negara, Marx dan Engels menggabungkan keduanya. Penting bagi mereka untuk melihat persaingan, kompetisi, sebagai hal yang mesti dicampuri. Keadilan tak diperoleh dengan membebaskan penguasa ekonomi menjadi lebih kuat dari penguasa politik. Ilmu politik mereka bersandar pada ekonomi dan pandangan materialisme yang melihat secara nyata keadaan sekitar, mereka mencoba meramal, suatu saat akan ada perubahan sosial yang dahsyat yang mengganggu ekonomi yang berlandaskan kapitalisme. Teorinya adalah tentang teori perjuangan kelas ekonomi: kelas ekonomi lemah dan kelas ekonomi kuat. Ekonomi lemah akan melakukan perjuangan perubahan nasib atas penindasan ekonomi kuat. Semuanya bersifat teoretis dan keilmuan bagi mereka, meski tetap dipengaruhi oleh berbagai spekulasi pendahulu mereka. Namun nasib pandangan keduanya yang ingin membentuk teori ilmiah menjadi lain saat bertemu dengan kondisi praktis dari politik. Jauh setelah mereka meninggal dunia, dunia terbelah dua, komunis versus kapitalis. Keduanya berevolusi dengan permainan politik yang implementatif dan praktis yang jauh dari perkiraan sebelumnya. Politikus "mempermainkan" teori-teori mereka sedemikian untuk mempercepat revolusi, taktis, strategis, dan sudah tak lagi menjadi ilmiah, karena buku Marx menjadi kultus. Sistem ekonomi negara komunis dipusatkan pada pemerintah. Setiap hari menjadi revolusioner, terjadi keresahan, hingga negara-negara komunis runtuh di kemudian hari.

Bagaimana nasib sosiologi? Di beberapa negara komunis ilmu politik dan ideologi menguasai sosiologi. sangat sedikit perkembangan sosiologi di negeri komunis yang memang berkecenderungan menjadi diktator bahkan fasis. Sosiologi masih berkembang. Ia malah belajar banyak dari kemelut dan krisis sosial yang ada.

Pada zaman yang tak begitu jauh dari Marx, Alexis de Tocqueville (1805-1859), ilmuwan politik sekaligus bangsawan Perancis, menulis buku tentang demokrasi. Sedikit ia berbicara soal ekonomi. Ia mempelajari cara berpolitik orang Amerika Serikat. Tocqueville mencatat dan secara sederhana menganalisis politik Amerika, mengapa? Karena baginya, situasi di Amerikalah satu-satunya tempat di dunia di mana pikiran-pikiran sosiologis yang tadinya berkembang di Eropa diuji secara bebas dalam masyarakat. Salah satu kesimpulannya tentang demokrasi yang sangat menarik adalah keyakinannya bahwa pendapat publik juga dapat berubah menjadi tirani yang juga menindas masyarakat, tak berbeda dengan tirani pada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seoarang raja yang diktator.

Lain lagi di Inggris, filsuf John Stuart Mill (1806-1873), banyak berbicara dan menyumbangkan pikiran dalam bidang ilmu politik ekonomi, logika, dan etika. Dalam tradisi dan aliran filsafat, Mill dikenal memiliki karakter pemikiran yang sangat dipengaruhi oleh empirisisme di Inggris yang terpengaruh oleh filsuf David Hume (1711-1776) dan utilitarianisme Jeremy Bentham (1748-1832), filsuf Inggris lainnya.

Dalam kajian filsafat, secara sederhana, empirisisme merupakan doktrin filsafat yang menekankan bahwa semua pengetahuan harus disandarkan pada pengalaman, dan menolak kemungkinan munculnya gagasan yang muncul tiba-tiba tanpa proses mengalami. Di sisi lain, utilitarianisme merupakan doktrin etika yang menunjukkan bahwa apa-apa yang baik adalah apa-apa yang memiliki kegunaan, dan nilai etis dari setiap tindakan dilihat dari kegunaan yang diperoleh sebagai hasil dari tindakan tersebut. Kedua pemikiran inilah yang menjadi tempat berpijak sosiologi primitif dari Mill.
Pemikiran Mill yang patut dicatat adalah tentang kebebasan individual dan bahwa kebijakan apapun dari pemerintah tidak boleh bertentangan dengan kebebasan individu. Agak mirip dengan Tocqueville, Mill menekankan bahwa kebebasan individual dapat terancam baik oleh pendapat sosial maupun oleh tirani politik. Secara praktis, Mill juga memiliki beberapa pendapat soiologis yang menarik, seperti kepemilikan sumber daya alam oleh individu, kesamaan antara laki-laki dan perempuan (kesetaraan gender), pentingnya pendidikan, dan keluarga berencana.

http://compsoc.bandungfe.net/intro/imgs/marx.jpg

Capital is money, capital is commodities. By virtue of it being value, it has acquired the occult ability to add value to itself. It brings forth living offspring, or, at the least, lays golden eggs.

Marx & Engels

http://compsoc.bandungfe.net/intro/imgs/tocqueville.jpg

Here it is that humanity achieves for itself both perfection and brutalization, that civilization produces its wonders, and that civilized man becomes again almost a savage

Alexis de Tocqueville

http://compsoc.bandungfe.net/intro/imgs/mill.jpg

The only part of the conduct of anyone for which he is amenable to society is that which concerns others. In the part which merely concerns himself, his independence is, of right, absolute. Over himself, over his own body and mind, the individual is sovereign....

John Stuart Mill: antara Hume dan Bentham

MERETAS JALAN SOSIOLOGI

MERETAS JALAN SOSIOLOGI: fungsionalisme

Sebuah pemerintahan negara biasanya memiliki sebuah lembaga informal yang mengumpulkan diskusi di antara berbagai macam ahli dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari teologi, fisika, kimia, biologi, sosiologi, kriminologi, antropologi, ekonomi, aktivis LSM, dan sebagainya. Bagaimana kira-kira diskusi mereka jika ada sebuah isu yang dilemparkan ke mereka sebagai titik tolak kebijakan yang dilakukan pemerintahnya? Bisa kita bayangkan bahwa dari satu isu kecil, maka berbagai macam perdebatan bisa muncul di sana. Masing-masing berbicara dari sudut pandang masing-masing, karena mereka memang memiliki fungsi yang berbeda dalam masyarakat, demikian pula hasil pengamatan mereka dan pendapat mereka. Fungsi-fungsi apa yang membentuk struktur masyarakat? Bagaimana jika salah satu atau beberapa fungsi tersebut lumpuh? Coba bayangkan tubuh manusia yang ginjalnya sakit, atau kakinya terkilir, giginya berlubang, atau bibirnya terkena sariawan. Maka tubuhnya akan runtuh, jatuh dan tak mampu lagi beraktivitas sebagaimana biasa. Seluruh tubuh rasanya sakit, mendengar suara berisik sedikit saja kemarahan meledak, kepala nyut-nyut-nyut, padahal sebenarnya hanya karena gigi yang sakit. Fungsionalisme melihat sistem sosial ibarat tubuh, yang jika satu bagian sakit, maka seluruh anggota tubuh lain harus diupayakan menyembuhkannya, agar ia dapat beraktivitas seperti biasa.

Emile Durkheim (1858-1917), sosiolog Perancis yang pikirannya sangat dipengaruhi oleh Auguste Comte, merupakan sosiolog yang sangat mendambakan pendekatan ilmiah dalam memahami fenomena sosial. Teorinya berawal dari pemahaman bahwa kelompok manusia memiliki sifat yang lebih dari atau sama dengan jumlah dari sifat-sifat individual yang menyusun kelompok tersebut. Dari sini ia menerangkan banyak hal, bahwa sistem sosial seimbang oleh karena adanya nilai-nilai yang dianut bersama oleh individu, seperti nilai moral dan agama. Inilah yang mengikat individu dalam kelompok masyarakat. Rusaknya nilai-nilai ini berarti rusaknya kesetimbangan sosial; melalui ketidaknyamanan pada individu-individu masyarakatnya. Contohnya yang terkenal adalah kasus bunuh diri. Menurutnya, orang bunuh diri karena hilangnya rasa memiliki dan dimiliki orang tersebut dalam masyarakat.

Secara ekstrim, fungsionalis berfikir bahwa masyarakat pada awalnya disusun oleh individu yang ingin memenuhi kebutuhan biologisnya secara bersama, namun pada akhirnya berkembang menjadi kebutuhan-kebutuhan sosial. Kelanggengan kolektif ini membentuk nilai masyarakat, dan nilai inilah yang membuat masyarakat tetap seimbang.

Sosiolog Amerika Serikat, Talcott Parsons (1902-1979), diklaim sebagai seorang fungsionalis. Teorinya didasarkan pada mekanisme sosial dalam masyarakat dan prinsip-prinsip organisasi di dalamnya. Pengembangan ini disebut juga struktural-fungsionalisme. Dalam pandangan ini, masyarakat tersusun atas bagian-bagian seperti misalnya rumah sakit, sekolah, pertanian, dan seterusnya yang terbagi berdasarkan fungsinya.

Secara ringkas, fungsionalis melihat masyarakat ibarat sebuah organisme, makhluk hidup yang bisa sehat atau sakit. Ia sehat jika bagian-bagian dari dirinya (kelompok fungsional, individu) memiliki kebersamaan satu sama lain. Jika ada bagiannya yang tidak lagi menyatu secara kolektif, maka kesehatan dari masyarakat tersebut terancam, atau sakit. Dalam hal ini hukuman/sanksi sosial terhadap penjahat dapat dipandang sebagai cara untuk mencegah sakitnya sistem sosial.

Salah seorang fungsionalis Amerika yang lain, Robert K. Merton (1911-2003) menggunakan terminologi fungsionalisme taraf menengah. Secara teoretis, Merton memiliki perspektif yang sama dengan sosiolog fungsionalisme pendahulunya, namun yang menjadi sorotan utamanya adalah pengembangan teori sosial taraf menengah. Dalam pengertian Merton, teori taraf menengah adalah teori yang terletak di antara hipotesis kerja yang kecil tetapi perlu, yangberkembang semakin besar dari hari ke hari, dan usaha yang mencakup semuanya untuk mengembangkan suatu teori terpadu yang akan menjelaskan semua keseragaman yang diamati dalam perilaku sosial, organisasi sosial, dan perubahan sosial. Hal ini adalah responnya terhadap semangat Parsons yang hingga akhir hidupnya ingin menyelesaikan teori tunggal tentang sistem sosial (grand unified social theory).

Menurut Merton, teoretisi sosial dalam pengamatannya harus membedakan antara motif dan fungsi sosial. Motif sosial itu lebih bersifat pribadi daripada fungsi sosial itu sendiri. Misalnya, dalam sebuah masyarakat terdapat doktrin yang mengandung fungsi sosial untuk mempertahankan komunitas tersebut, yaitu mempunyai anak. Jika seseorang melahirkan anak, kebahagiaan orang tersebut dan keluarganya lebih kepada motif pribadi, cinta kasih, penyesuaian diri dengan kondisi sosial, dan sebagainya lebih daripada fungsi sosialnya yaitu untuk mempertahankan komunitas. Dalam hal ini, perlu dibedakan dua fungsi sosial, yaitu fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah fungsi yang diketahui dan dimafhumi oleh individu-individu dalam sistem sosial tersebut, sementara fungsi laten adalah fungsi yang tak diketahui. Hal ini menjelaskan tentang terjadinya pola-pola konsekuensi disfungsional dari tindakan individu dalam masyarakat. Disfungsional maksudnya konsekuensi yang justru memperkecil kemampuan bertahannya masyarakat tersebut. Contoh yang menarik untuk ini adalah berkembangnya sekte agama atau suku tertentu; jelas sekali fungsi manifes yang terkandung dari ajaran atau doktrin yang ada dalam agama atau suku tersebut adalah untuk membangun solidaritas sesama manusia dalam kelompok tersebut. Namun di sana terdapat fungsi laten, yaitu fanatisme kelompok yang besar, yang bisa memunculkan disfungsi konsekuensi, perang atau teror antar kelompok agama atau suku yang justru sangat berbeda maksudnya dengan fungsi manifesnya, yaitu membangun solidaritas sesama manusia dalam kelompok yang lebih besar.

Man could not live if he were entirely impervious to sadness. Many sorrows can be endured only by being embraced, and the pleasure taken in them naturally has a somewhat melancholy character. So, melancholy is morbid only when it occupies too much place in life; but it is equally morbid for it to be wholly excluded from life.

Emile Durkheim

It is possible to have scattered and unintegrated bits of knowledge, and to assent to the "truth" of further scattered bits as they are called to one's attention. This type of knowledge does not, however, constitute "science " in the sense in which this study is interested in it.

Talcott Parsons

As the numbers of sociologists have increased, they have become... more differentiated. It is now possible to identify some thirty to forty fields of prime specialization in sociology...

R K Merton

MERETAS JALAN SOSIOLOGI: pertukaran sosial

Kalau kita berteman dengan seseorang, mungkinkah kita tidak mengharapkan sesuatu apapun darinya? Kita ingin dia membantu kita dalam kesusahan, mendengar dan memberi nasihat tatkala kita membutuhkan, menghibur tatkala lagi be-te, dan seterusnya. Mengapa hal ini terjadi? Karena memang persahabatan juga membutuhkan biaya, dan setelah biaya itu dibayarkan dalam persahabatan tentu kita membutuhkan imbalan dari biaya tersebut.

Hal-hal individualistik seperti ini yang menjadi dasar pijak teori pertukaran sosial, sebuah teori sosial yang bersandar pada perilaku antar individu. Teori ini dicoba distrukturkan oleh sosiolog Inggris, George Homans (1910-1989), yang saat itu berseteru secara teoretis dengan antropolog Perancis, Claude Levi-Strauss. Levi-Strauss banyak berkecimpung dalam penelitian masyarakat primitif, dan menurutnya pertukaran sosial adalah hal yang paling bisa menggambarkan motif interaksi antara manusia secara primitif. Hal ini diamatinya mulai dari proses pernikahan dan sistem kerabatan masyarakat primitif. Ia menunjukkan bagaimana pertukaran dalam sistem sosial dapat berupa pertukaran terbatas (restricted exchange) dan pertukaran diperluas (generalized exchange).


Pertukaran terbatas ada di antara dua orang (dyad) secara langsung, digambarkan:

A <-> B, C <-> D, dan seterusnya.

Pertukaran diperluas ditemukan dengan melibatkan banyak orang (triadik dan seterusnya), misalnya interaksi:

A -> B -> C -> A, dan seterusnya.

Sebagai contoh, Levi-Strauss menunjukkan bahwa pola di mana seseorang mengawini putri saudara ibunya menyumbangkan tingkat solidaritas sosial yang lebih tinggi daripada pola lain di mana seeorang mengawini putri saudara bapaknya. Menurutnya, hal ini terjadi karena pola perkawinan terdahulu, yaitu perkawinan putri saudara ibu lebih sering terjadi dalam masyarkat primitif daripada pola kedua. Hal ini dijelaskannya secara detail melalui model pertukaran terbatas dan pertukaran diperluas.

Homans, mengajukan tiga konsep yang berbeda untuk menjelaskan pertukaran sosial, yaitu:
1. aktivitas, sebagai perilaku aktual yang digambarkan secara konkrit
2. interaksi, sebagai kegiatan yang mendorong atau didorong oleh kegiatan orang lain
3. sentimen, sebagai kegiatan yang dilakukan atas prakiraan subyektif dan akal sehat individu

Dari konsep ini ia bergerak lebih jauh untuk menerangkan bagaimana konsep biaya dan imbalan dalam struktur sosial.

Sosiolog Amerika Peter Blau, mengembangkan teori pertukaran yang lebih komprehensif, yaitu analisis pertukaran antar individu dalam organisasi yang kompleks; bagaimana pertukaran di tingkat MIKRO sebagaimana yang diterangkan oleh Homans dalam kebrojolan organisasi sosial yang besar di tingkat MAKRO. Pertukaran-pertukaran di tingkat individu ini membrojolkan institusi sosial, dan cara untuk mengamati pertukaran sosial di tingkat mikro adalah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan psikologis individu seperti dukungan sosial, dan sebagainya. Ia banyak berbicara tentang bagaimana pertukaran yang tak seimbang menimbulkan dominasi sosial, strategi dalam pertukaran sosial, dan bagaimana sebuah struktur kekuasaan menjadi stabil dan seimbang.

The anthropologist respects history, but he does not accord it a special value. He conceives it as a study complementary to his own: one of them unfurls the range of human societies in time, the other in space.

Claude Levi-Strauss

Only social exchange tends to engender feelings of personal obligation, gratitude, and trust; purely economic exchange as such does not.

Peter Blau

MERETAS JALAN SOSIOLOGI: strukturasi

Anthony Giddens, sosiolog Inggris mengembangkan apa yang disebutnya sebagai sosiologi sehari-hari. Sosiologi didasarkan pada pemahamannya atas STRUKTURASI dalam sistem sosial. Teori ini ditawarkan dalam kerangkan membahas pertanyaan-pertanyaan seperti apakah agen manusia atau kekuatan sosial yang besarkah yang membentuk masyarakat - bagaimana interaksi MIKROSTRUKTUR dengan MAKROSTRUKTURnya. Teori strukturasi menunjukkan bahwa agen manusia secara kontinu mereproduksi struktur sosial - artinya individu dapat melakukan perubahan atas struktur sosial.

MERETAS JALAN SOSIOLOGI: marxisme baru dan teori kritis

Banyak orang bilang media massa itu jahat, karena media massa itu bisa membentuk opini publik. Ia bisa menggiring pendapat orang, dan membentuk sikap dari pendapat umum. Sinetron dan telenovela dikritik karena dapat membuai masyarakat dari keseharian persoalan, demikian pula MTv yang memiliki peluang menentukan genre musik yang tren saat ini atau kapanpun. Televisi yang menampilkan hasil poling yang tak adil dikritik karena dapat mempengaruhi pasar pemilihan. Ini menjadi dasar teori kritis, teori yang muncul dari perubahan yang besar dalam pemikiran marxisme klasik. Ia menyentuh mode pakaian, aksen bicara, musik pop, dan sebagainya.

Max Weber (1864-1920), pemikir sosial Jerman, mungkin adalah orang yang di zamannya paling merasa tertantang oleh determinisme ekonomi Marx yang memandang segala sesuatu dari sisi politik ekonomi. Berbeda dengan Marx, Weber dalam karya-karyanya menyentuh secara luas ekonomi, sosiologi, politik, dan sejarah teori sosial. Weber menggabungkan berbagai spektrum daerah penelitiannya tersebut untuk membuktikan bahwa sebab-akibat dalam sejarah tak selamanya didasarkan atas motif-motif ekonomi belaka. Weber berhasil menunjukkan bahwa ide-ide religius dan etis justru memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses pematangan kapitalisme di tengah masyarakat Eropa, sementara kapitalisme agak sulit mematangkan diri di dunia bagian timur oleh karena perbedaan religi dan filosofi hidup dengan yang di barat lebih dari pada sekadar faktor-faktor kegelisahan ekonomi atas penguasaan modal sekelompok orang yang lebih kaya.

Kegelisahan teoretis yang sama, bahwa marxisme klasik terlalu naif dengan mendasarkan segala motif tindakan atas kelas-kelas ekonomi memiliki dampak besar yang melahirkan teori kritis dan marxisme baru. Aliran ini dikenal sebagai Mazhab Frankfurt, sebuah kumpulan teori sosial yang dikembangkan di Institute for Social Research, yang didirikan di Frankfurt, Jerman pada tahun 1923. Mazhab ini terinspirasi dari pandangan-pandangan Marx, namun tidak lagi menjelaskan dominasi atas dasar perbedaan kelas ekonomi semata, melainkan atas otoritas penguasa yang menghalangi kebebasan manusia. Jika fokus marxisme klasik adalah struktur ekonomi politik, maka marxisme baru bersandar pada budaya dan ideologi. Kritisismenya terasa pada kritik-kritik yang dilontarkan atas ideologi-ideologi yang bersandar pada pendekatan psikolog klasik Austria, psikoanalisisme Sigmund Freud (1856-1939); tentang kesadaran, cara berfikir, penjajahan budaya, dan keinginan untuk membebaskan masyarakat dari kebohongan publik atas produk-produk budaya.

Sosiolog Mazhab Frankfurt Max Horkheimer (1895–1973) dan Theodor Adorno (1903-1969) membuat landasan instrumental agenda-agenda teoretis mazhab ini. Analisisnya berkenaan dengan pembedaan antara peradaban barat dan timur, dan bagaimana peradaban barat telah menyimpang dengan konsep rasionalitas yang bertujuan untuk menaklukkan dan mengatur alam semesta. Studi-studi yang mereka lakukan berlandaskan pada hal ini, diikuti oleh sosiolog Jerman-Amerika, Herbert Marcuse (1898-1979). Dalam perkembangannya, sosiolog Frankfurt termuda, Juergen Habermas, mengubah agenda Mazhab Frankfurt menjadi upaya emanisipatoris atas rasionalisme pencerahan.

Belakangan, pemikiran Mazhab Frankfurt ini telah mempengaruhi banyak sekali teoretisi sosial yang memfokuskan kritik pada obyek budaya seperti hiburan, musik, mode, dan sebagainya yang dinyatakan sebagai industri budaya. Dalam teori kritis atau neo-marxisme ini, sudah tidak ada lagi determinisme ekonomi dan tak lagi meyakini bahwa kaum miskin (proletar) akan menjadi agen perubahan sosial, namun bergerak ke kelompok sosial lain, seperti kaum radikal di kampus-kampus, dan sebagainya. Ini menjadi keyakinan mereka merupakan agen-agen untuk melakukan transformasi sosial di kemudian hari.

Hingga hari ini, neo-marxisme masih terus berkembang namun tidak banyak menuai perkembangan teoretis. Tradisinya hidup di studi-studi budaya, namun masih memiliki motif yang sama yaitu upaya pembukaan tabir dan motif-motif kapitalisme di tengah-tengah masyarakat.

If we thus ask, "Why should money be made out of men?," Benjamin Franklin himself, although he was a colorless deist, answers in his autobiography with a quotation from the Bible.

Max Weber

Culture is a paradoxical commodity. So completely is it subject to the law of exchange that it is no longer exchanged; it is so blindly consumed in use that it can no longer be used.

Max Horkheimer

Marx did not develop this idea of the science of man. By equating critique with natural science, he disavowed it. Materialist scientism only reconfirms what absolute idealism had already accomplished: 'the elimination of epistemology in favour of unchained universal "scientific knowledge" - but this time of scientific materialism instead of absolute knowledge.

Juergen Habermas

MERETAS JALAN SOSIOLOGI: konflik

Seorang direktur jatuh cinta pada seorang karyawatinya yang juga sedang memadu cinta dengan karyawan lain. Karyawan ini ternyata memang sudah dimak-comblangi oleh teman-temannya yang lain. Mereka tak tahu sebelumnya bahwa sang direktur menyimpan hati atas karyawati tersebut, karena kebetulan hanya karyawan dan karyawati tersebut yang belum menikah di sana. Apa yang terjadi? Konflik dalam perusahaan. Konflik yang akan berakhir dengan perubahan tatanan sosial dalam perusahaan tersebut. Sang direktur akan menjadi tak lagi fokus pada pekerjaannya, ia berusaha mencari waktu untuk memberi tugas pada karyawatinya. Pun hal ini juga dilakukan oleh karyawan yang sedang mabuk kepayang. Karyawati tersebut menjadi bingung. Struktur sosial perusahaan bisa berubah dengan sangat cepat. Jika anda seorang konsultan tenaga kerja dan dimintai nasehat untuk mengatasi masalah ini, apa yang akan anda lakukan? Dinamika sebuah sistem sosial terjadi atas peta konflik yang terjadi dalam sistem tersebut. Secara sederhana, inilah dasar cara pandang teori konflik yang akhirnya berbicara tentang banyak hal soal struktur sosial dan perubahannya.

Selain kemunculan teoretisi neo-marxis, pergulatan antar kelas ekonomi menjadi inspirasi pula bagi lahirnya teori konflik. Sosiolog Jerman, Ralf Dahrendorf, menerangkan konflik kelas dalam masyarakat industrial pada tahun 1959. Teori ini sangat berbeda dari teori Marx karena ia menganalisis konflik tanpa memperhitungkan politik ekonomi yang ada (apakah kapitalisme atau sosialisme). Jika Marx bersandar pada PEMILIKAN alat produksi, maka Dahrendorf bersandar pada KONTROL atas alat produksi. Dalam terminologi Dahrendorf, pada masa pos-kapitalisme, kepemilikan akan alat produksi (baik sosialis atau kapitalis) tidak menjamin adanya kontrol atas alat produksi. Jadi, di luar Marxisme, ia mengembangkan beberapa terminologi dari Max Weber, antara lain bahwa sistem sosial itu dikoordinasi secara imperatif melalui otoritas/kekuasaan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa teori Dahrendorf melakukan kombinasi antara fungsionalisme (tentang struktur dan fungsi masyarakat) dengan teori (konflik) antar kelas sosial. Teori sosial Dahrendorf berfokus pada kelompok kepentingan konflik yang berkenaan dengan kepemimpinan, ideologi, dan komunikasi di samping tentu saja berusaha melakukan berbagai usaha untuk menstrukturkan konflik itu sendiri, mulai dari proses terjadinya hingga intensitasnya dan kaitannya dengan kekerasan. Jadi bedanya dengan fungsionalisme jelas, bahwa ia tidak memandang masyarakat sebagai sebuah hal yang tetap/statis, namun senantiasa berubah oleh terjadinya konflik dalam masyarakat. Dalam menelaah konflik antara kelas bawah dan kelas atas misalnya, Dahrendorf menunjukkan bahwa kepentingan kelas bawah menantang legitimasi struktur otoritas yang ada. Kepentingan antara dua kelas yang berlawanan ditentukan oleh sifat struktur otoritas dan bukan oleh orientasi individu pribadi yang terlibat di dalamnya. Individu tidak harus sadar akan kelasnya untuk kemudian menantang kelas sosial lainnya.

Sebelumnya, Georg Simmel (1858–1918), sosiolog fungsionalis Jerman juga telah mencoba mendekati teori konflik dengan menunjukkan bahwa konflik merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang mendasar; berkaitan dengan sikap bekerja sama dalam masyarakat. Dalam hal ini Simmel mungkin salah seorang sosiolog pertama yang berusaha keras untuk mengkonstruksi sistem formal dalam sosiologi yang diabstraksikan dari sejarah dan detil pengalaman manusia. Analisisnya tentang efek ekonomi uang dalam perilaku manusia merupakan salah satu pekerjaannya yang penting.

Jika Simmel membedah teori sosial berdasarkan konfliknya, maka sosiolog konflik Amerika Serikat, Lewis Coser (1913-2003), bertitik berat pada konsekuensi-konsekuensi terjadinya konflik pada sebuah sistem sosial secara keseluruhan. Teorinya menunjukkan kekeliruan jika memandang konflik sebagai hal yang melulu merusak sistem sosial, karena konflik juga dapat memberikan keuntungan pada masyarakat luas di mana konflik tersebut terjadi. Konflik justru dapat membuka peluang integrasi antar kelompok.

Di Amerika Serikat, teori konflik muncul menjadi sebuah cabang teoretis oleh karena ketidaksukaan pada sosiologi fungsionalisme yang berkembang saat itu. C. Wright Mills, sosiolog Amerika 1960-an mengecam fungsionalisme melalui kritiknya tentang elit kekuasaan di Amerika saat itu. Perdebatan Mills dan fungsionalisme ini pada dasarnya menunjukkan bagaimana sosiologi telah berkarib dengan ideologi. Tuduhan yang paling besar adalah uraiannya tentang karya Parsons yang bermuatan ideologis dan menurutnya sebagian besar isinya kosong/hampa. Secara metodologi, Mills lebih mirip dengan mazhab Frankfurt atas kritiknya pada media massa, pemerintahan, dan militer. Salah satu contoh proposisinya yang kontroversial adalah bahwa menurutnya di Amerika terjadi paradoks demokrasi: bentuk pemerintahannya adalah demokrasi namun seluruh struktur organisasinya cenderung diubah ke bentuk oligarkhi, hanya sedikit yang memiliki kekuasaan politik.

Dalam sosiologi, teori konflik berdasar pada asumsi dasar bahwa masyarakat atau organisasi berfungsi sedemikian di mana individu dan kelompoknya berjuang untuk memaksimumkan keuntungan yang diperolehnya; secara tak langsung dan tak mungkin dihindari adalah perubahan sosial yang besar seperti revolusi dan perubahan tatanan politik. Teori konflik ini secara umum berusaha memberikan kritiknya pada fungsionalisme yang meyakini bahwa masyarakat dan organisasi memainkan peran masing-masing sedemikian seperti halnya organ-organ dalam tubuh makhluk hidup.

Ringkasnya, ada sedikitnya empat hal yang penting dalam memahami teori konfilk sosial, antara lain:
1. kompetisi (atas kelangkaan sumber daya seperti makanan, kesenangan, partner seksual, dan sebagainya. Yang menjadi dasar interaksi manusia bukanlah KONSENSUS seperi yang ditawarkan fungsionalisme, namun lebih kepada KOMPETISI.
2. Ketaksamaan struktural. Ketaksamaan dalam hal kuasa, perolehan yang ada dalam struktur sosial.
3. Individu dan kelompok yang ingin mendapatkan keuntungan dan berjuang untuk mencapai revolusi.
4. Perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari konflik antara keinginan (interes) yang saling berkompetisi dan bukan sekadar adaptasi. Perubahan sosial sering terjadi secara cepat dan revolusioner daripada evolusioner.

Dalam perkembangannya, teori konflik Mills, Dahrendorf, dan Coser berusaha disusun sintesisnya oleh sosiolog Amerika lain, Randall Collins, yang berusaha menunjukkan dinamika konflik interaksional. Menurut Collins, struktur sosial tidak mempunyai EKSISTENSI OBYEKTIF yang terpisah dari pola-pola interaksi yang selalu berulang-ulang dalam sistem sosial; struktur sosial memiliki EKSISTENSI SUBYEKTIF dalam pikiran individu yang menyusun masyarakat. Dalam hal ini, Collins mulai membagi apa yang MIKRO dan apa yang MAKRO. Mikrososial berarti hubungan interaksi antar individu dalam masyarakat, sementara makrososial berarti hasil dari interaksi antar individu dalam masyarakat tersebut. Collins sangat dipengaruhi tak hanya pendahulunya dalam teori konflik, namun juga pemikiran teori kritis dan fungsionalisme dan teori pertukaran sosial. Salah satu contoh yang menarik adalah pendapatnya tentang alat produksi mental, misalnya pendidikan dan media massa serta alat produksi emosional seperti tradisi dan ritualisme sosial. Semakin besar kepercayaan akan senjata-senjata mahal yang dipegang oleh suatu kelompok, semakin besar pula tentara mengambil bentuk hirarki komando. Di sisi lain, semakin besar persamaan dalam kelompok disatukan secara seremonial, semakin besar pula kenderungan agama menekankan ritus-ritus partisipasi massa dan ideal persaudaraan kelompok. Demikian seterusnya, seolah tercapai pertemuan antara teori struktur-fungsionalisme, teori konflik, dan interaksionisme simbol.




Followers