Marching Band SMPN 3 Ciawigebang Kuningan

Pembentukan mental peserta didik.

Candi Borobudur

Warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan.

Tarian Tradisional

Melestarikan warisan budaya.

Pantai Parangtritis

Menikmati keindahan Alam Nusantara.

Benteng Belanda

Peninggalan Penjajah.

Showing posts with label Khasanah Budaya Sunda. Show all posts
Showing posts with label Khasanah Budaya Sunda. Show all posts

HISTORY OF KUJANG


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0yOxAHxUwnO-b88Te2L1AyxtjGj0HQr9-UHcBZsZf1hqWvxnPfGNa2tGTa8JGy2qEI3uN2zd38g5eo5vwS7I0PPII1AovOt4cJBD64qJKELg5flqN_IaZPvIaYqmtkP0SLdpemq_A1Fk/s1600/Kujang.jpg 
Kujang was one of the typical weapon of the West Java region, precisely in Pasundan (Sundanese tatar). form of a weapon is quite unique in terms of its design, no one equals this weapon in any area, this weapon in West Java. The absence of the right words to mention the name of this weapon into the International language, so the sense is synonymous with Cleaver "Chorizo" (= sickles/Scythe), certainly is very much distorted because they look different from any facet of arit with or sickle. Not the same also with "scimitar" which shape is convex. And in Indonesia itself and sickle or Scythe is actually called "chelurit" (celurit). Perhaps in response to language barriers, the duties and obligations of Sundanese cultural observer, and local print media in more intensive tatarsunda to publish this weapon into a world of Cleaver International.  The origin of the term comes from the word Cleaver ' Kudihyang ' with the root word ' Kudi, India ' and ' Lord '. ' Kudi, India ' is taken from an ancient Sundanese have a sense of weapons that have supernatural powers as a talisman, the milky way, as a repellent, for example to drive off the enemy or avoid danger/disease. This weapon also kept possession, which is used to protect the home from danger by putting it in a crate or a certain place inside the House or put it on the bed (Hazeu, 1904: 405-406) whereas ' Hyang ' comparable with notions of Gods in some mythology, but for the people of Sunda Hyang has the meaning and position above the gods, this is reflected in the doctrine of "Dasa Prebakti" which is reflected in the script the Sanghyang Torment Kanda Ng Karesian mentioned "God's consecrated Hyang". In General, understand the inheritance of Kujang as having certain powers that come from the gods (= Lord), and as a weapon, from ancient to the present Kujang occupy one very special position among the people of West Java (Sunda). As an emblem or symbol with the philosophical values niali contained therein, Kujang is used as one of the few aesthetic symbol of organization and governance.


PARTS of KUJANG


Papatuk (Congo) ; the tip of a sharp Kujang, pointless to incise or gouged.    
Eluk (Siih) ; angled-angled out from the back or on the side of the Kujang, pays to the enemy's stomach ripped to shreds.    
Waruga ; the name bilahan (body) Kujang.    
Mata ; small holes in the bilahan Kujang who at first holes were covered with metal (usually gold or silver) or gemstone. But most of the rest found only small holes. Use as a symbol of status phase of the wearer, at most 9 eye and at least one eye, and there is also no-eyed Kujang, called "Blind Kujang".    
Pamor ; streaks or spots on the body Kujang called Sulangkar or Leopard, usually containing poison, pointless besides to embellish the kujangnya also to turn off the enemy quickly.    
Tonggong ; at the side of a sharp reply backs Kujang, can to whittle also slicing.       
Beuteung ; the sharp side of abdomen, Kujang, the point is equal to its back part.    
Tadah ; small curved on the lower abdomen, Kujang, pointless to fend off enemy weapons and spun off to bounce from their grasp.    
Paksi ; the tail section is a kujang taper to be inserted into the handle of the Kujang.      
Combong ; the hole on the handle of the Kujang, to pack the axis (tail Kujang).    
Selut ; ring on the upper end of the handle of kujang, point to strengthen the grip of the handle Kujang on tail (Paksi).    
Ganjal (landéan) ; the name is typical of the handle (handle) Kujang.    
Kowak (Kopak) ; the typical name Holster kujang.

CATATAN PERJALANAN KUJANG PAMOR KREASI GOSALI PAMOR SILIWANGI

http://kujangpamorsiliwangi.wordpress.com/2008/06/10/

Pada tanggal 8 sd 10 Juni 2008, kami berdua dengan Amas Sambas seorang pandai tempa kujang (Master Bladesmith) menyempatkan diri untuk mengunjungi pameran kujang yang diselenggarakan oleh, Balai Pengelolaan Museum Negeri “Sri Baduga” Jawa Barat dan Paguyuban Pencinta Kujang. Kami sempat bertemu dengan panitia penyelenggara diantaranya dengan Gungun Gurnadi sebagai kolektor kujang, Nita Julianita dari Museum Negeri Sri Baduga, dan Primaditya, dosen muda dari ITS, yang saat ini sedang menyelesaikan thesisnya mengenai klasifikasi dan kerajinan golok, di FSRD-ITB. Kami juga bertemu dengan Jajang seorang akhli ukir kalau didaerah Ciwidey sebutannya adalah maranggi, yang dulu sempat membantu kami pada saat rekonstruksi kujang pamor kami. Bagus sekali themanya: KUJANG PUSAKA JATI DIRI KISUNDA, “Mengenalkan Ragam Bentuk Kujang Sebagai Salah Satu Kekayaan Budaya Jawa Barat”.
Kami berdua bangga dan terharu ternyata penelitian kami 12 tahun yang lalu mengenai Material Baja Pamor yang diaplikasikan pada Kujang, terus berkembang. Waktu itu ide kami sangat sederhana sekali. Bermula dari dari kujang yang kami pesan dari Teddy Kardin Jl. Hegarmanah, Bandung. Beliau memperlihatkan kepada kami dan berkata: “sebutulnya ada material yang sangat artistic namanya Damascussteel”. Kami perhatikan bentuk dan teksturnya memang indah sekali ada garis-garis abstrak putih mengkilap. Lantas saya tanyakan kepada beliau. Kang Teddy kami pernah melihat ini sebagai material keris. Beliaupun menjawab: Iya. Kami langsung penasaran, Kang Teddy punya referensi mengenai material damascussteel?. Beliau menjawab: “Ada”. Boleh kami copy?. “Boleh”. Ketika pulang kami tanyakan kepada Almarhum Ayah kami dan beliau juga mengenalnya sebagai material untuk keris. Karena saat revolusi Almarhum Ayah kami ikut hijrah ke yogya bersama Pasukan Divisi Siliwangi, maka beliau sangat mengenal sekali dengan teknik dan cara pembuatannya, karena disekitar Yogya – Magelang ada beberapa Empu Keris terkenal sebagai pembuat keris keraton.
Berawal dari artikel pendek Majalah Knive inilah, kami coba kembangkan lebih jauh lewat korespondensi, dengan rekan-rekan di USA melalui American Bladesmith Society, wawasan dan pengetahuan kami mulai berkembang. Kebetulan di Jakarta HU. Kompas mengadakan pameran Keris dan Teknik Pembuatannya dengan para perajin keris yang sebagian besar dari Solo. Kami perhatikan teknik pembuatannya karena kebetulan background kami dari teknik mesin, jadi tidak terlalu kesulitan untuk mengikutinya. Dari sinipun kami merasa belum cukup pengetahuan untuk mencoba membuatnya lantas dilanjutkan dengan jalan ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia – Solo, yang kebetulan disana ada jurusan kria tosan aji. Saya coba bawa material Alloy Steel AISI O1, AISI C-1045 dan Nickel dengan tingkat kemurnian 99%, untuk dicoba ditempa disana. Mereka kesulitan dalam menempa karena materialnya terlalu keras tetapi akhirnya berhasil juga.
Setelah studi referensi dan studi banding di Solo, akhirnya kami simpulkan untuk mencoba membuat material sendiri dan diaplikasikan pada kujang dan kami namakan kujang pamor. Ide ini dari awalnya sudah kami sampaikan kepada pimpinan perusahaan kami yaitu pasangan suami istri Susanto Widjaja dan Sri Sulastri Anggraini. Beliau setuju untuk melanjutkan penelitian kami dan beliau berpesan kelak penelitian ini harus menjadi suatu produk seni dan budaya yang punya nilai tinggi baik secara estetika maupun komersial. Beliau juga menambahkan mudah-mudahan kelak para seniman, budayawan khususnya dari daerah Jawa Barat akan tertarik untuk menggali kujang lebih jauh lagi. Susanto Widjaja berkelakar dan berkata: “Kami heran kenapa kukri pisau Resimen Tentara Ghurka lebih polularitas dari pada kujang, yaa. Padahal kalau diamati saya yakin ini adalah senjata etnik juga awalnya?!”. Waktu itu kami hanya menjawab:”Waktu akan membuktikan, kelak kujang pamor juga akan dikenal didunia”.
Akhirnya kami sepakat bertiga waktu itu, Susanto Widjaja, Sri Sulastri, Bayu S. Hidajat sepakat membuat bengkel kreasi seni tosan aji dan Susanto Widjaja member nama GOSALI PAMOR SILIWANGI. Gosali dalam bahasa Sunda berarti bengkel tempat seorang Empu berkarya. Pamor adalah bagian dari seni tosan aji (kreasi seni besi yang bernilai) atau bisa juga diartikan sebagi kharismatik dan Siliwangi diambil dari nama Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjadjaran. Kebetulan saat itu instansi yang member sambutan baik pada penelitian kami yang pertama adalah KODAM III – SILIWANGI, melalui panglimanya May.jend. Tayo Tarmadi, dibantu staff nya Letkol. Ali Hassan dan Kol. Tatang.
Pada bulan Agustus 1996, Kami memulai pembuatan Baja Pamor di Gosali milik Amas Sambas, di Kampung Lio, Desa Mekarmaju, Ciwidey, Kab. Bandung. Waktu itu Bayu S. Hidajat sebagai Pengarah Teknis (Technical Advisor), bertanggung jawab pada komposisi material dan teknik proses penempaan. Amas Sambas sebagai pandai (Master Bladesmith), Aka dan Subandi, sebagai panjak (Co. Worker). Dari experiment ini kami berhasil membuat baja pamor motif dasar beras utah, pamor lurus, pamor untir dan udan mas (penamaan ini kami ambil sebagian dari istilah keris). Seluruh baja pamor tersebut langsung kami aplikasikan pada kujang dan kujang kujang tersebut kami berikan sebagai cinderamata pada client di perusahaan kami, sebagian diberikan dan dijual kepada KODAM III-SILIWANGI untuk para tamu VVIP nya, Gubernur Jabar Nuriana, Walikota Bandung Wahyu Hamidjaja dan Pesanan Para Kolektor dalam dan luar negeri.
November 1996, Bayu S. Hidajat dan Amas Sambas berhasil menurunkan, Teknik dan Proses Pembuatan Baja Pamor ini kepada Generasi ke 2 yaitu, Pandai Achid, masih di kampong Lio, Desa Mekarmaju, Ciwidey, Kab. Bandung. Sebagai pendukung yang tidak kalah pentingnya dalam perjalanan kujang pamor kami adalah Jajang Rambo dari Sukawening Ciwidey dan Nur dari Salamanjah Ciwidey. Sedangkan untuk Maranggi generasi pertama adalah Atep dan kedua adalah Jajang Toed.
Dari sejarah singkat inilah babak baru kujang pamor, kreasi empu-empu muda dimulai di Bandung dan mungkin di Jawa Barat, memang masih relatif muda usianya tetapi memang belum banyak hasil serta kreasi yang kami berikan waktu itu tetapi minimal Gosali Pamor Siliwangi, telah berani merubah hal yang imajinatif menjadi sesuatu yang realistic. Kami pun bangga, kemarin dari pembicaraan dengan rekan-rekan di Pameran salah satu maranggi binaan kami berkata: “Selepas Bayu S. Hidajat ke Jakarta dan Yogyakarta, di Ciwidey dilanjutkan oleh Teddy Permadi.” Kebetulan kami dan Amas Sambas tidak sempat bertemu beliau, tetapi Jajang Toed menambahkan bahwa orangnya yang dulu dibawa Bayu S. Hidajat ke Ciwidey diantaranya ke Atep, maranggi. Saya ucapkan juga dengan segala kerendahan hati mohon maaf mungkin saya khilaf. Tapi seingat saya kalau tidak salah dulu pernah ada Seminar dan Pameran Kujang di IAIN dan beberapa koleksi kami juga sempat dipamerkan disana.
Ada beberapa saran yang akan kami sampaikan setelah mengunjungi pameran ini:
1. Untuk event pameran ini kami acungkan jempol, terlepas dari segala kekurangannya karena sudah berani memulai saja adalah sudah langkah maju. Lakukan dengan lebih baik dan professional lagi serta buat kalender event pada setiap periode waktu. Libatkan instansi terkait dan event organizer yang professional serta pihak sponsor baik dari perusahaan swasta, bumn, PMA dan NGO yang peduli dengan budaya. Sekaligus adakan perlombaan membuat kujang terbaik untuk setiap tahunnya, yang yang pesertanya setiap daerah yang ada di Jawa Barat, khususnya.
2. Pameran akan lebih menarik bilamana disajikan dalam bentuk real berupa demo proses pembuatan kujang yang terintegrated dari mulai proses penempaan, finishing bilah dan Maranggi. Benefitnya adalah Empu seperti Amas Sambas dan Achid harus diperkenalkan kepada Masyarakat Luas. Karena biar bagaimanapun salah satu kunci kreativitas karya kujang itu ada pada beliau-beliau ini. Para Mpu inilah yang kelak akan mewariskan keakhliannya kepada generasi penerus. Untuk menjaring dan merangsang
3. Dorong karya penelitian dari pihak PEMDA khususnya libatkan Akademisi, tokoh masyarakat, yang bisa dianggap sebagai narasumber. Satukan hasil segala pemikirannya dan deskripsikan menjadi sebuah buku bahkan jika perlu dijadikan sebagai ensiklopedia. Mungkin disini yang terlibat adalah cabang ilmu antropologi, sejarah, seni & disain material science yang menangani pengembangan material kujang. Lakukan publikasi baik didalam negeri maupun diluar negeri. Kelak kalau kujang kita sudah jelas definisi anatominya, jelas bentuk pamor dari yang menciptanya, bila perlu dipatentkan (HAKI).
4. Dari sisi material kamipun harus jujur perkembangan secara estetika dan teknik pembuatan baja pamor kita tertinggal jauh di bandingkan dengan Negara USA dan Eropa. Tetapi ini sangat wajar karena walaupun Baja Pamor dulunya sangat berkembang di Negara Indonesia, tetapi perkembangan material science dan metalurgi jauh berkembang dinegara sana. Karena dukungan Research & Development yang baik.
5. Rangsang para seniman dan perajin tosan aji kujang agar Mpu-Mpu nya bisa hidup dengan layak dan menikmati buah karyanya. Mungkin secara komersial mereka bisa dimasukan dalam pemberian kredit UKM.
6. Beri kebebasan khususnya para seniman muda untuk melahirkan karya-karya terbaik mereka. Jangan pernah ada lagi kata-kata kujang saya yang asli, kujang saya benar2 yang paling asli karena luangnya ada 5. Kujang yang benar dan asli itu matanya 3. Biar aja public dan market yang akan menilai sesuai dengan seleranya.
Mungkin kelak keberadaan kujang pusaka akan benar2 menjadi jatidiri Kisunda. Awali dengan MAU. Mau kerja keras, mau berpikir, mau jujur, mau berkarya, mau belajar, mau tidak egois …..dll.
Dukungan penuh dari seluruh pemerintah dan masyarakat Jawa Barat khusus nya, menjadikan power agar warisan dan budaya kujang ini tetap terjaga dan lestari. Jangan sampai nanti rebut dan kebakaran jenggot manakala sudah dipatent kan oleh Negara lain. Saving Our Culture Heritage, To be in Harmony with the Universe. Jangan hanya jadi slogan indah tapi harus terealisasi dan benar-benar disadari oleh seluruh masyarakat kita.

Followers