Marching Band SMPN 3 Ciawigebang Kuningan

Pembentukan mental peserta didik.

Candi Borobudur

Warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan.

Tarian Tradisional

Melestarikan warisan budaya.

Pantai Parangtritis

Menikmati keindahan Alam Nusantara.

Benteng Belanda

Peninggalan Penjajah.

Silabus Mata Kuliah Landasan Pendidikan S-2 UPI

MATA KULIAH : LANDASAN DAN PRINSIP PENDIDIKAN UMUM
DOSEN : PROF.DRS.H. A. KOSASIH JAHIRI
DR.H.SOFYAN SAURI, M.PD
KODE MATA KULIAH : PUN 610
BOBOT SKS : 3 SKS
JENJANG STUDI : MAGISTER

A. IKHTISAR UMUM MATA KULIAH
1. Visi Mata Kuliah
Mata kuliah ini membahas konsep, landasan, prinsip, ruang lingkup, dan sasaran pendidikan umum. Kajiannya ditekankan pada proses pembinaan dan pengembangan manusia yang utuh, berkepribadian, manusiawi, bermoral dalam kehidupan yang terus mengalami perubahan dan gejolak yang menguji keajegan akhlak terutama dihari¬-hari yang akan datang, mata kuliah ini menjadi salah satu modal dasar bagi para pendidik di lingkungan-lingkungan informal (keluarga), non formal (masyarakat), serta formal (sekolah), untuk membina dan mengembangkan peserta didik menjadi sumber daya manusia Indonesia modern yang beretos kerja tinggi, cendikia, yang dilandasi oleh akhlak al karimah.
2. Target Kurikuler Perkuliahan
Menghasilkan pendidik yang berkualifikasi Magister (S2) Program Studi Pendidikan Umum yang menguasai hakikat, landasan dan prinsip Pendidikan Umum dalam membina serta mengembangkan peserta didik di lingkungan manapun menjadi sumber days manusia (SDM) Indonesia modern yang beretoskerja tinggi, cendekia, dan berakhlak mulia.


3. Proses Pembelajaran
Untuk merealisasikan visi mencapai target kurikuler perkuliahan, proses perkuliahan menerapkan multi metode (ceramah, diskusi, tugas) dengan menggunakan multimedia yang sesuai dengan karakter mata kuliah Landasan dan Prinsip Pendidikan Umum. Materi perkuliahan, selain berpusat pada bahasan pokok sesuai dengan mata kuliah, juga mengangkat permasalahan pendidikan aktual yang sedang dialami masyarakat. Diskusi kajian materi tersebut, juga diarahkan pada topik-topik yang dapat diangkat untuk memenuhi tugas akhir penyusunan tesis
4 Penilaian Keberhasilan Proses dan Hasil Belajar
Keberhasilan proses pembelajaran, dilakukan secara terpadu melalui evaluasi tertulis (mid tes dan final tes), penampilan dalam diskusi kelas, dan tugas-tugas tertulis (makalah dan laporan bacaan). Melalui penilaian yang demikian itu, diharapkan memperoleh "profil" penguasaan hasil pembelajaran yang memadai.

B. POKOK BAHASAN DAN KAJIAN PERKULIAHAN

1. Korisep Dasar Perkuliahan
Konsep dasar perkuliahan meliputi hakikat pendidikan dan pendidikan umum, landasan-landasan pendidikan umum (agama, filsafat, budaya, umum, moral); prinsip-prinsip atau asas-asas (pendidikan sepanjang hayat , kasih sayang, demokrasi, keterbukaan, dan tranparansi, tanggung jawab, kualitas); strategi dan sasaran Pendidikan Umum.
2. Pokok Bahasan dan Kajian Per Pertemuan
2.1 Pengenalan Mata Kuliah
2.2 Hakikat Pendidikan
2.3 Konsep, Ruang Lingkup dan Sasaran Pendidikan Umum
2.4 Fungsi, Kedudukan, Peranan, dan Prospek Pendidikaan Umum
2.5 Landasan Filosofis Pendidikan Umum
2.6 Landasan Sosial-kultural Pendidikan Umum
2.7 Asas-asas Pendidikan Umum
2.8 UTS
2.9 Strategi Pembelajaran Pendidikan Umum
2.10 Teknik Evaluasi pada Pendidikan Umum
2.11 Fenomena PU di Lingkungan Sekolah
2.12 Fenomena PU di Lingkungan Masyarakat
2.13. Fenomena PU di lingkungan Keluarga
2.14. Review dan Refleksi Perkuliahan.
2.15 UAS

3. Pustaka Rujukan
Abdurrahman Saleh Abdullah, (1990). Teori-teori Pendidikan
Berdasarkan Al Quran. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Achmad Haris Zubair. (2002). Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam.
Adnan Hasan, S,B. (1996). (Terjemahan) Tanggung Jawab Ayah Terhadap Anak Laki-Laki. Jakarta:Gema Insani Press.
Andrias Harefa. Menjadi Manusia Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Harian Kompas.
Ary Ginanjar Agustian. (2001) Emotional Spiritual Quotient, Jakarta: Penerbit Arga
Attali, J (1997). Milenium Ketiga Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Boast, W M. Martin,M. (2001) Master of Change. Jakarta PT Elex Media Komputindo
Bolton, R. (2000). People Skills. East Rossevile NSW: Smin & Schuster.
Covery, S. R. (1994). 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif Jakarta: PT Binarupa Aksara.
Deddy Mulyana, Jalaludin Rakhmat, Editor. (2000). Komunikasi Antar Budaya_ Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
DePorter, B., Hernacki, M. (2000). Quantum Learning. Bandung: Penerbit Kaifa.
Devitt, M., Stereiny, K. (1995) Language & Reality. Massachusetts, A Bradford Book.
Didin Hafidhuddin, et al. (2001). Sederhana Itu lndah. Jakarta;Penerbit Republika.
Doe, M., Walch,M. (2001). 10 Prinsip Spritual Preanting. Bandung: Penerbit Kaifa.
Cleary, Th. (1994). Kepemimpinan Dan Strategi. Jakarta: PT Gramedia Asri Media.
Freire, P., et a!. (1999). Menggugat Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
(2002). Politik Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Friel, J. C., Friel, L. D. (2002). 7 Kesalahan Terbesar Orang Tua dan Cara-cara Memperbaikinya. Bandung Penerbit Kaifa.
Goleman, D. (2001). Emotional Intelegence. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Hart, M. H. (2001). Seratus Tokoh Yang paling Berpengaruh Dalam Sejarah. Jakarta: Pustaka jaya.
Henry, N. B., editor (1952) General Education. Chicago: The National Society for the Study of Education.
Hidayat Nataatmadja. (2001). Intelelegensi Spiritual. Jakarta:Penerbit Press.
I Djumhur, H. Danasaputra (1974) Sejarah Pendidikan Bandung: Penerbit CV Ilmu.
Ibnu Miskawaih. (1414 H). Menuju Kesempurnaan Ahlak. Bandung: Penerbit Mizan.
Jaevis, P. (1992). Paradoxes of Learning, on Becoming an Individual in Society. San Fransisco: Jossey-Bass, Inc.
Kuntowijoyo. (2002). Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas. Bandung Penerbit Mizan.
Laszio, E. (1999) Milenium Ke-3 Tantangan dan Visi. Jakarta: Penerbit Abdi Tandur
M. Arskal Salim, GP, et al, editor (2000). Pendidikan Kewarganegaraan, HAM & Masyarakat Madani. Jakarta: IAIN Jakarta Press
Moh Rifa'i. (1992) Ahlaq Aeorang Muslim, Semarang : Penerbit Wicaksana
Nursid Sumaatmadja (2000) Manusia Dalam Konteks Sosial
Budaya dan lingkungan Hidup Bandung, CV Alfabeta.
-------------------------------(2002). Pendidikan Pemaanusiaan Manusia Manusiawi, Bandung: CV. Alfabeta.
Ornstein, Allan C. & Levine, Daniel U. (1988). An Introduction to the Foundations of Education. Third Edition. Boston: Houghton Mifflin Co.
Pal, Young_ (1990). Cultural Foundations of Education. Boston: Macmillan Publishing Co.
Phenix, Ph. H. (1964). Realm of Meaning_ New York. Mcgraw-Hill Book Company.
Rokeah. (1973). The Nature of Human Values. New York: Basic Books.
Sinetar, M. (2002). Spiritual Intelegence. Jakarta. PT Elex Media Komputindo.
Sinta Ratnawati, editor (2000). Keluarga, Kunci Sukses Anak. Jakarta: Penerbit Kompas.
Soerjanto Poespowardoyo, Frans M. Parera, editor. Pendidikan
Wawasan Kebangsaan. Jakarta: Penerbit PT Grasindo.
Toffer,A. Toffer, H. (2002) Menciptakan Peradaban Baru.
Yogyakarta: ikon Terelitera.
Winarno Surahmad (1980) Mewujudkan Nilai-Nilai Hidup Dalam
Tingkah laku. Bandung: Penerbit Tarsito.
Yunahar Ilyas. (1999). Kuliah Ahlaq. Yogyakarta: Lembaga
Pengkajian dan Pengalaman Islam.
C. POLA PEMBELAJARAN
1. Pola Proses Pembelajaran
Pembelajaran, terutama tatap muka dalam kelas dengan menerapkan metoda-metoda ceramah dan diskusi, sedangkan di luar kelas menerapkan metode tugas berupa penyusunan makalah serta melaporkan bacaan. Tugas-tugas tersebut ditekankan pada tugas individual.
2. Tagihan Akademik :
a. Telaah Asas Pendidikan Taman Siswa
b. Laporan Buku
c. Makalah Akhir
3. Pola Penilaian
Sesuai dengan Pedoman Akademik UPI untuk Program Pasca Sarjana . penilaian secara terpadu diangkat dari Ujian tengah Semester, Ujian Akhir Semester, dan tugas-tugas (makalah, laporan bacaan).
Ujian Tengah Semester berbobot 3 (tiga)
Ujian Akhir Semester berbobot 3 (tiga)
Makalah Individual berbobot 2 (dua)
Laporan Buku Individual berbobot 1 (satu)

LANDASAN PENDIDIKAN

November 16, 2007 oleh syamsulberau

PENDAHULUANPendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga “belajar” tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen.
Pandangan klasik tentang pendidikan, pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungi sekaligus. Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk untuk memegang peranan-peranan tertentu pada masa mendatang. Kedua, mentransfer pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan peradaban. Butir kedua dan ketiga di atas memberikan pengerian bahwa pandidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi umat manusia.
Landasan Pendidikan marupakan salah satu kajian yang dikembangkan dalam berkaitannya dengan dunia pendidikan. Pada makalah ini berusaha memuat tentang : landasan hukum,landasan filsafat,landasan sejarah,landasan sosial budaya,landasan psikologi,dan landasan ekonomi . 1. Landasan HukumKata landasan dalam hukum berarti melandasi atau mendasari atau titik tolak.Sementara itu kata hukum dapat dipandang sebagai aturan baku yang patut ditaati. Aturan baku yang sudah disahkan oleh pemerintah ini , bila dilanggar akan mendapatkan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku pula. Landasan hukum dapat diartikan peraturan baku sebagai tempat terpijak atau titik tolak dalam melaksanakan kegiatan – kegiatan tertentu, dalam hal ini kegiatan pendidikan.a. Pendidikan menurut Undang-Undang 1945Undang – Undang Dasar 1945 adalah merupakan hokum tertinggi di Indonesia.Pasal – pasal yang bertalian dengan pendidikan dalam Undang – Undang Dasar 1945 hanya 2 pasal, yaitu pasal 31 dan Pasal 32. Yang satu menceritakan tentang pendidikan dan yang satu menceritakan tentang kebudayaan. Pasal 31 Ayat 1 berbunyi : Tiap – tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran. Dan ayat 2 pasal ini berbunyi : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pengajar Pasal 32 pada Undang – Undang Dasar berbunyi : Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.an nasional, yang diatur dengan Undang – Undang.b. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Pendidikan NasionalTidak semua pasal akan dibahas dalam buku ini. Yang dibahas adalah pasal – pasal penting terutama yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam serta sebagai acuan untuk mengembangkan pendidikan. Pertama – tama adalah Pasal 1 Ayat 2 dan Ayat 7. Ayat 2 berbunyi sebagai berikut : Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan nasional yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang – Undang Dasar 45. Undang – undang ini mengharuskan pendidikan berakar pada kebudayaan nasional yang berdasarkan pada pancasila dan Undang – Undang dasar 1945, yang selanjutnya disebut kebudayaan Indonesia saja. Ini berarti teori – teori pendidikan dan praktek – praktek pendidikan yang diterapkan di Indonesia, tidak boleh tidak haruslah berakar pada kebudayaan Indonesia.“Selanjutnya Pasal 1 Ayat 7 berbunyi : Tenaga Pendidik adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurut ayat ini yang berhak menjadi tenaga kependidikan adalah setiap anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya dalam penyelenggaraan pendidikan. Sedang yang dimaksud dengan Tenaga Kependidikan tertera dalam pasal 27 ayat 2, yang mengatakan tenaga kependidikan mencakup tenaga pendidik, pengelola/kepala lembaga pendidikan, penilik/pengawas, peneliti, dan pengembang pendidikan, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.” 2. Landasan FilsafatFilsafat pendidikan ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar – akarnya mengenai pendidikanAgar uraian tentang filsafat pendidikan ini menjadi lebih lengkap, berikut akan dipaparkan tentang beberapa aliran filsafat pendidikan yang dominan di dunia ini. Aliran itu ialah :1. Esensialis2. Parenialis3. Progresivis4. Rekonstruksionis5. EksistensialisFilsafat pendidikan Esensialis bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad – abad lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial, yang lain adalah suatu kebenaran secara kebetulan saja. Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukan intelektual dan logika.Filsafat pendidikan Parenialis tidak jauh berbeda dengan filsafat pendidikan Esensialis. Kalau kebenaran yang esensial pada esensialis ada pada kebudayaan klasik dengan Great Booknya, maka kebenaran Parenialis ada pada wahyu Tuhan. Tokoh filsafat ini ialah Agustinus dan Thomas Aquino.Demikianlah Filsafat Progresivisme mempunyai jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Menurut filsafat ini, tidak ada tujuan yang pasti. Tujuan dan kebenaran itu bersifat relative. Apa yang sekarang dipandang benar karena dituju dalam kehidupan, tahun depan belum tentu masih tetap benar. Ukuran kebenaran ialah yang berguna bagi kehidupan manusia hari ini. Tokoh filsafat pendidikan Progresivis ini adalah John Dewey.Filsafat pendidikan Rekonstruksionis merupakan variasi dari Progresivisme, yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki (Callahan, 1983). Mereka bercita – cita mengkonstruksi kembali kehidupan manusia secara total.Filsafat pendidikan Eksistensialis berpendapat bahwa kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri. Adanya manusia di dunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas. Akan menjadi apa orang itu ditentukan oleh keputusan dan komitmennya sendiri. 3. Landasan SejarahSejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang dapat didasari oleh konsep – konsep tertentu. Sejarah pendidikan di Indonesia.Pendidikan di Indonesia sudah ada sebelum Negara Indonesia berdiri. Sebab itu sejarah pendidikan di Indonesia juga cukup panjang. Pendidikan itu telah ada sejak zaman kuno, kemudian diteruskan dengan zaman pengaruh agama Hindu dan Budha, zaman pengaruh agama Islam, pendidikan pada zaman kemerdekaan. Pada waktu bangsa Indonesia berjuang merintis kemerdekaan ada tiga tokoh pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan, yang berjuang melalui pendidikan. Merka membina anak-anak dan para pemuda melalui lembaganya masing-masing untuk mengembalikan harga diri dan martabatnya yang hilang akibat penjajahan Belanda. Tokoh-tokoh pendidik itu adalah Mohamad Safei, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan (TIM MKDK, 1990). Mohamad Syafei mendirikan sekolah INS atau Indonesisch Nederlandse School di Sumatera Barat pada Tahun 1926. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kayutanam, sebab sekolah ini didirikan di Kayutanam. Maksud ulama Syafei adalah mendidik anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan jiwa yang merdeka. Tokoh pendidik nasional berikutnya yang akan dibahas adalah Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Sifat, system, dan metode pendidikannya diringkas ke dalam empat keemasan, yaitu asas Taman Siswa, Panca Darma, Adat Istiadat, dan semboyan atau perlambang.Asas Taman Siswa dirumuskan pada Tahun 1922, yang sebagian besar merupakan asas perjuangan untuk menentang penjajah Belanda pada waktu itu. Tokoh ketiga adalah Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi Agama Islam pada tahun 1912 di Yogyakarta, yang kemudian berkembang menjadi pendidikan Agama Islam. Pendidikan Muhammadiyah ini sebagian besar memusatkan diri pada pengembangan agama Islam, dengan beberapa cirri seperti berikut (TIM MKDK, 1990).Asas pendidikannya adalah Islam dengan tujuan mewujudkan orang-orang muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya kepada diri sendiri, dan berguna bagi masyarakat serta Negara.Ada lima butir yang dijadikan dasar pendidikan yaitu :

  1. Perubahan cara berfikir
  2. Kemasyarakatan
  3. Aktivitas
  4. Kreativitas
  5. Optimisme

4. Landasan Sosial BudayaSosial mengacu kepada hubungan antar individu, antarmasyarakat, dan individu secara alami, artinya aspek itu telah ada sejak manusia dilahirkan.Sama halnya dengan social, aspek budaya inipun sangat berperan dalam proses pendidikan. Malah dapat dikatakan tidak ada pendidikan yang tidak dimasuki unsure budaya. Materi yang dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu pula kegiatan-kegiatan mereka dan bentuk-bentuk yang dikerjakan juga budaya. Sosiologi dan PendidikanSosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya.Proses sosial dimulai dari interaksi sosial dan dalam proses sosial itu selalu terjadi interaksi sosial. Interaksi dan proses social didasari oleh factor-faktor berikut :1. Imitasi2. Sugesti3. Identifikasi4. Simpati Kebudayaan dan PendidikanKebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, huku, moral, adapt, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Imran Manan, 1989)Hassan (1983) misalnya mengatakan kebudayaan berisi (1) norma-norma, (2) folkways yang mencakup kebiasaan, adapt, dan tradisi, dan (3) mores, sementara itu Imran Manan (1989) menunjukkan lima komponen kebudayaan sebagai berikut :1. Gagasan2. Ideologi3. Norma4. Teknologi5. BendaAgar menjadi lengkap, perlu ditambah beberapa komponen lagi yaitu :1. Kesenian2. Ilmu3. KepandaianKebudayaan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :1. Kebudayaan umum, misalnya kebudayaan Indonesia2. Kebudayaan daerah, misalnya kebudayaan Jawa, Bali, Sunda, Nusa Tenggara Timur dan sebagainya3. Kebudayaan popular, suatu kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih pendek daripada kedua macam kebudayaan terdahulu. 5. Landasan PsikologiPsikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Karena itu jiwa atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia, yang berada dan melekat dalam manusia itu sendiri.a. Psikologi Perkembangan Ada tiga teori atau pendekatan tentang perkembangan. Pendekatan-pendekatan yang dimaksud adalah : (Nana Syaodih, 1988)1. Pendekatan pentahapan. Perkembangan individu berjalan melalui tahapan-tahapan tertentu. Pada setiap tahap memiliki ciri-ciri pada tahap-tahap yang lain.2. Pendekatan diferensial. Pendekatan ini memandang individu-individu itu memiliki kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan. Atas dasar ini lalu orang-orang membuat kelompok-kelompok3. Pendekatan ipsatif. Pendekatan ini berusaha melihat karakteristik setiap individu, dapat saja disebut sebagai pendekatan individual. Melihat perkembangan seseorang secara individual. Sementara itu Stanley Hall penganut teori Evolusi dan teori Rekapitulasi membagi masa perkembangan anak sebagai berikut (Nana Syaodih, 1988)1. Masa kanak-kanak ialah umur 0 – 4 tahun sebagai masa kehidupan binatang.2. Masa anak ialah umur 4 – 8 tahun merupakan masa sebagai manusia pemburu3. Masa muda ialah umur 8 – 12 tahun sebagai manusia belum berbudaya4. Masa adolesen ialah umur 12 – dewasa merupakan manusi berbudaya b. Psikologi BelajarBelajar adalah perubahan perilaku yang relative permanent sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat, atau kecelakaan) dan bias melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikan kepada orang lain. Ada sejumlah prinsip belajar menurut Gagne (1979) sebagai berikut :1. Kontiguitas, memberikan situasi atau materi yang mirip dengan harapan pendidik tentang respon anak yang diharapkan, beberapa kali secara berturut-turut.2. Pengulangan, situasi dan respon anak diulang-ulang atau dipraktekkan agar belajar lebih sempurna dan lebih lama diingat.3. Penguatan, respon yang benar misalnya diberi hadiah untuk mempertahankan dan menguatkan respon itu.4. Motivasi positif dan percaya diri dalam belajar.5. Tersedia materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas anak-anak6. Ada upaya membangkitkan keterampilan intelektual untuk belajar, seperti apersepsi dalam mengajar7. Ada strategi yang tepat untuk mengaktifkan anak-anak dalam belajar8. Aspek-aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh factor-faktor dalam pengajaran. 6. Landasan EkonomiPada zaman pasca modern atau globalisasi sekarang ini, yang sebagian besar manusianya cenderung mengutamakan kesejahteraan materi disbanding kesejahteraan rohani, membuat ekonomi mendapat perhatian yang sangat besar. Tidak banyak orang mementingkan peningkatan spiritual. Sebagian besar dari mereka ingin hidup enak dalam arti jasmaniah. Seperti diketahui dana pendidikan di Indonesia sangat terbatas. Oleh sebab itu ada kewajiban suatu lembaga pendidikan untuk memperbanyak sumber-sumber dana yang mungkin bias digali adalah sebagai berikut :

  1. Dari pemerintah dalam bentuk proyek-proyek pembangunan, penelitian-penelitian bersaing, pertandingan karya ilmiah anak-anak, dan perlombaan-perlombaan lainnya.
  2. Dari kerjasama dengan instansi lain, baik pemerintah, swasta, maupun dunia usaha. Kerjasama ini bias dalam bentuk proyek penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan proyek pengembangan bersama.
  3. Membentuk pajak pendidikan, dapat dimulai dari satu desa yang sudah mapan, satu daerah kecil, dan sebagainya. Program ini dirancang bersama antara lembaga pendidikan dengan pemerintah setempat dan masyarakat. Dengan cara ini bukan orang tua siswa saja yang akan membayar dana pendidikan, melainkan semua masyarakat.
  4. Usaha-usaha lain, misalnya :

a. Mengadakan seni pentas keliling atau dipentaskan di masyarakatb. Menjual hasil karya nyata anak-anakc. Membuat bazaard. Mendirikan kafetariae. Mendirikan took keperluan personalia pendidikan dan anak-anakf. Mencari donator tetapg. Mengumpulkan sumbanganh. Mengaktifkan BP 3 khusus dalam meningkatkan dana pendidikan.Seperti diketahui setiap lembaga pendidikan mengelola sejumlah dana pendidikan yang bersumber dari pemerintah (untuk lembaga pendidikan negeri), masyarakat, dan usaha lembaga itu sendiri. Menurut jenisnya pembiayaan pendidikan dijadikan tiga kelompok yaitu :

  1. Dana rutin, ialah dana yang dipakai membiayai kegiatan rutin, seperti gaji, pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, perkantoran, biaya pemeliharaan, dan sebagainya.
  2. Dana pembangunan, ialah dana yang dipakai membiayai pembangunan-pembangunan dalam berbagai bidang. Yang dimaksudkan dengan pembangunan disini adalah membangun yang belum ada, seperti prasarana dan sarana, alat-alat belajar, media, pembentukan kurikulum baru, dan sebagainya.
  3. Dana bantuan masyarakat, termasuk SPP, yang digunakan untuk membiayai hal-hal yang belum dibiayai oleh dana rutin dan dana pembangunan atau untuk memperbesar dana itu.
  4. Dana usaha lembaga sendiri, yang penggunaannya sama dengan butir 3 di atas

Simpulan :Landasan Pendidikan diperlukan dalam dunia pendidikan khususnya di negara kita Indonesia,agar pendidikan yang sedang berlangsung dinegara kita ini mempunyai pondasi atau pijakan yang sangat kuat karena pendidikan di setiap negara tidak sama.Untuk negara kita diperlukan landasan pendidikan berupa landasan hukum,landasan filsafat,landasan sejarah,landasan sosial budaya,landasan psikologi,dan landasan ekonomi . DAFTAR PUSTAKA Pidarta Made, Landasan Kependidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 1997 Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Edisi Revisi 5, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2006 Indira Permanasari, Pendidikan Dasar Gratis Sudah Saatnya Diberlakukan , www.kompas.com/ Ditulis oleh : SYAMSUL BAHRIProgram Studi : S-2 Teknologi Pendidikan UNMUL Samarinda




RITUAL LEBARAN

Negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim sudah lama sekali mengenal tradisi lebaran, seiring dengan masuknya ideologi Islam di Tanah Air ini. Asimilasi dan akulturasi terjadi dalam ritual tahunan ini, diantaranya adalah perpaduan antara Budaya asli Islam dengan Budaya Nusantara yang melahirkan sebuah kebudayaan yang indah dan memukau untuk ditelusuri.
Ramah tamah dan budaya gotong royong yang masyarakat kita miliki ternyata akhirnya melahirkan sebuah kebiasaan pada saat ritual lebaran tiba. Berbagai macam kebiasaan "turunan" yang lahir dari dan menyesuaikan dengan ritual lebaran yang sebetulnya hanya satu atau dua hari ini, misalnya : membeli pakaian baru, menyiapkan makanan yang sedikit berlebih (untuk menyuguhi tamu yang berkunjung), dll.
Berkaitan dengan budaya mudik inilah, pada saat lebaran 1 Syawal 1430 H kemarin keluarga besar berkumpul di rumah Nenek di Desa Darma Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan. Seperti ritual tahun-tahun sebelumnya, aktivitas kumpul pertama diisi dengan "sungkeman", kemudian makan-makan, berikutnya acara masing-masing. Biasanya "ritual" berlangsung hingga sore hari, setelah itu keluarga besar bubar dan kembali ke "habitatnya" di rumah neneknya masing-masing.
Neh foto-fotonya...






KRI DEWARUCI ASET TNI AL KEBANGGAAN BANGSA





Hari Minggu sampai Rabu, Tanggal 6 - 9 September 2009 ada yang istimewa di Pelabuhan Cirebon. Pada tanggal itu Pelabuhan Cirebon kedatangan Kapal Latih TNI AL KRI Dewaruci.
Kedatangan Kapal Latih tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat Cirebon dan sekitarnya, termasuk Kuningan untuk berkunjung dan mengenal KRI tersebut lebih dekat. Pengunjung dapat memasuki kapal tersebut dan dapat melihatnya secara langsung.
Sebagai seorang pendidik, saya (yang juga turut berkunjung) melihat peristiwa ini sebagai sebuah wahana pembelajaran yang sangat positif yang dapat dimanfaatkan oleh generasi penerus Bangsa kita untuk lebih meningkatkan rasa percaya diri dan rasa Bangga sebagai Bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, kita dapat melihat dari dekat Kapal Latih TNI AL dengan segudang prestasi yang telah diraihnya tersebut.
Perasaan bangga dan senang menyelimuti hati saya begitu memasuki Pelabuhan Cirebon dan terlihat di pinggir Pelabuhan terapung sosok gagah dan membanggakan KRI Dewaruci. Kami (saya, istri dan anak-anak saya) menikmati betul dan memperha tikan dengan seksama keadaan di dalam Kapal tersebut. Dengan ditemani oleh seorang Taruna Pelaut yg sepertinya memang ditugaskan untuk menemani setiap tamu yang berkunjung kami mulai menapaki bagian-demi bagian dari kapal yg legendaris ini. Pertanyaan demi pertanyaan yang menjadi kepenasaranan benak kami satu demi satu dijawabnya dengan baik dan jelas yang membuat kami tambah kagum terhadap para Taruna yang dimiliki Indonesia tersebut. Walau tidak terlalu lama kami di dalam kapal tersebut, tetapi kami sudah cukup terpuaskan dengan kegiatan ini.
Terima kasih kami sampaikan kepada TNI AL, terutama ABK KRI De waruci yang telah membuka kesempatan kepada masyrakat seperti kami untuk memasuki dan mengenal lebih dekat KRI yang menjadi kebanggaan Masyarakat Indonesia ini. Saya yakin kegiatan ini memberikan dampak pendidikan yang sangat tinggi bagi mereka yang berkesempatan untuk menikmatinya. Salah satu contohnya, setelah menaiki KRI Dewaruci dan melihat serta ditemani oleh Taruna Pelautnya, anak saya jadi tertarik untuk menjadi Taruna Akademi Angkatan Laut.
Pesan pendidikan yang dapat diambil oleh kita semua elemen bangsa dari kegiatan ini salah satunya adalah bahwa dengan membuka seluas-luasnya informasi yang kita miliki dan memberikan kesempatan kepada semua komponen bangsa untuk dapat melihat informasi tentang lembaga atau institusi yg dipimpin maka akan semakin memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk mencintai, memiliki rasa bangga dan memperkecil saling berprasangka buruk, dan yang lebih penting lagi akan memperkecil ruang gerak para pemimpinnya untuk melakukan pen yimpangan dan penyelewengan seperti Korupsi, kolusi dan nepotisme karena sekecil apapun penyimpangan dan penyelewengan tersebut akan mudah diakses oleh masyarakat secara luas. Kita berharap mudah-mudahan keterbukaan TNI AL melalui kebebasan masyarakat untuk mengenal KRI Dewaruci ini menjadi sebuah symbol keterbukaan dalam segala aspek dan bidang dalam Tubu AL.
Kembali ke KRI Dewaruci. Sebagai Kapal Latih yang telah banyak mengalami perjuangan,
mendapatkan sejuta penghargaan atas peraihan prestasinya baik di Tingkat Nasional maupun Internasional, berkali-kali keliling dunia, KRI Dewaruci
pantas dijadikan kebanggaan. Layaklah kiranya dijadikan sebagai sebuah legenda. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, ada yang harus lebih kita perhatikan, yaitu Sumber Daya Manusianya. Hebatnya KRI Dewaruci sangat ditentukan oleh hebatnya para ABK yang menjalankannya. Artinya para pendukung KRI Dewaruci adalah orang-orang hebat yang pantas menjadi symbol kehebatan Bangsa Kita yang Pelaut ini. Kita juga dapat memahami bahwa sebenarnya potensi laut kita tidak kalah besar dan hebat dari potensi daratnya. Kegiatan ini membuka cakrawala kita betapa masih banyaknya potensi laut kita yang masih terabaikan bahkan dicuri orang. Sepertinya kita harus sudah mulai lagi mereorientasi cara pandang kita agar lebih memperhatikan lagi potensi kelautan y ang kita miliki ini. Kita gaungkan kembali bahwa Negeri
kita adalah
Negeri Bahari
.



Followers