Marching Band SMPN 3 Ciawigebang Kuningan

Pembentukan mental peserta didik.

Candi Borobudur

Warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan.

Tarian Tradisional

Melestarikan warisan budaya.

Pantai Parangtritis

Menikmati keindahan Alam Nusantara.

Benteng Belanda

Peninggalan Penjajah.

HISTORY OF KUJANG


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0yOxAHxUwnO-b88Te2L1AyxtjGj0HQr9-UHcBZsZf1hqWvxnPfGNa2tGTa8JGy2qEI3uN2zd38g5eo5vwS7I0PPII1AovOt4cJBD64qJKELg5flqN_IaZPvIaYqmtkP0SLdpemq_A1Fk/s1600/Kujang.jpg 
Kujang was one of the typical weapon of the West Java region, precisely in Pasundan (Sundanese tatar). form of a weapon is quite unique in terms of its design, no one equals this weapon in any area, this weapon in West Java. The absence of the right words to mention the name of this weapon into the International language, so the sense is synonymous with Cleaver "Chorizo" (= sickles/Scythe), certainly is very much distorted because they look different from any facet of arit with or sickle. Not the same also with "scimitar" which shape is convex. And in Indonesia itself and sickle or Scythe is actually called "chelurit" (celurit). Perhaps in response to language barriers, the duties and obligations of Sundanese cultural observer, and local print media in more intensive tatarsunda to publish this weapon into a world of Cleaver International.  The origin of the term comes from the word Cleaver ' Kudihyang ' with the root word ' Kudi, India ' and ' Lord '. ' Kudi, India ' is taken from an ancient Sundanese have a sense of weapons that have supernatural powers as a talisman, the milky way, as a repellent, for example to drive off the enemy or avoid danger/disease. This weapon also kept possession, which is used to protect the home from danger by putting it in a crate or a certain place inside the House or put it on the bed (Hazeu, 1904: 405-406) whereas ' Hyang ' comparable with notions of Gods in some mythology, but for the people of Sunda Hyang has the meaning and position above the gods, this is reflected in the doctrine of "Dasa Prebakti" which is reflected in the script the Sanghyang Torment Kanda Ng Karesian mentioned "God's consecrated Hyang". In General, understand the inheritance of Kujang as having certain powers that come from the gods (= Lord), and as a weapon, from ancient to the present Kujang occupy one very special position among the people of West Java (Sunda). As an emblem or symbol with the philosophical values niali contained therein, Kujang is used as one of the few aesthetic symbol of organization and governance.


PARTS of KUJANG


Papatuk (Congo) ; the tip of a sharp Kujang, pointless to incise or gouged.    
Eluk (Siih) ; angled-angled out from the back or on the side of the Kujang, pays to the enemy's stomach ripped to shreds.    
Waruga ; the name bilahan (body) Kujang.    
Mata ; small holes in the bilahan Kujang who at first holes were covered with metal (usually gold or silver) or gemstone. But most of the rest found only small holes. Use as a symbol of status phase of the wearer, at most 9 eye and at least one eye, and there is also no-eyed Kujang, called "Blind Kujang".    
Pamor ; streaks or spots on the body Kujang called Sulangkar or Leopard, usually containing poison, pointless besides to embellish the kujangnya also to turn off the enemy quickly.    
Tonggong ; at the side of a sharp reply backs Kujang, can to whittle also slicing.       
Beuteung ; the sharp side of abdomen, Kujang, the point is equal to its back part.    
Tadah ; small curved on the lower abdomen, Kujang, pointless to fend off enemy weapons and spun off to bounce from their grasp.    
Paksi ; the tail section is a kujang taper to be inserted into the handle of the Kujang.      
Combong ; the hole on the handle of the Kujang, to pack the axis (tail Kujang).    
Selut ; ring on the upper end of the handle of kujang, point to strengthen the grip of the handle Kujang on tail (Paksi).    
Ganjal (landéan) ; the name is typical of the handle (handle) Kujang.    
Kowak (Kopak) ; the typical name Holster kujang.

Contoh Karya Tulis Ilmiah

KARYA ILMIAH  REMAJA

SAMPAH DI INDONESIA

Disusun oleh :
................................
Kelas .................





KATA PENGANTAR

Puji  Syukur  kita  panjatkan  ke-hadirat  Allah  Yang  Maha  Esa,  karena  atas  berkat  rahmat dan  karunia-Nyalah,  karya  ilmiah  ini  dapat  terselesaikan  dengan  baik  dengan  judul pembuangan  limbah  sampah  di  Indonesia.  Dengan  membuat  tugas  ini  saya  harapkan  kita  semua  mampu  untuk  lebih  mengenal  tentang  masalah  sampah  dan  berbagai bahaya  yang  dapat  ditimbulkannya,  yang   merupakan  salah  satu  PR  besar  bangsa  Indonesia  dan  sering  kali  tidak  ditanggapi  dengan  baik  dan  bijaksana  oleh  masyarakat  Indonesia.
Saya  sadar,  sebagai  seorang  pelajar  yang  masih  dalam  proses  pembelajaran,  penulisan karya  ilmiah  ini  masih  banyak  kekurangannya.  Oleh  karena  itu,  saya  sangat  mengharapkan  adanya  kritik  dan  saran  yang  bersifat  positif,  guna  penulisan  karya  ilmiah yang  lebih  baik  lagi  di  masa  yang  akan  datang.
Harapan  saya,  semoga  karya  ilmiah  yang  sederhana  ini,  dapat  memberi  kesadaran  tersendiri  bagi  generasi  muda  bahwa  pentingnya  menjaga,  memelihara,  dan  melestarikan lingkungan  untuk  negeri  kita  tercinta  Indonesia. Amiin…

Kuala Kapuas,   September 2012
Penulis



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Salah  satu  faktor  yang  menyebabkan  rusaknya  lingkungan  hidup  yang  sampai  saat ini  masih  tetap  menjadi  “PR”  besar  bagi  bangsa  Indonesia  adalah  faktor  pembuangan limbah  sampah  plastik.  Kantong  plastik  telah  menjadi  sampah  yang  berbahaya  dan  sulit  dikelola.  Manusia  memang  dianugerahi  Panca  Indera  yang  membantunya  mendeteksi berbagai  hal  yang  mengancam  hidupnya.  Namun  di  dalam  dunia  modern  ini  muncul  berbagai  bentuk  ancaman  yang  tidak  terdeteksi  oleh  panca  Indera  kita,  yaitu  berbagai  jenis  racun  yang  dibuat  oleh  manusia  sendiri.
Lebih  dari  75.000  bahan  kimia  sintetis  telah  dihasilkan  manusia  dalam  beberapa  puluh tahun  terakhir.  Banyak  darinya  yang  tidak  berwarna,  berasa  dan  berbau,  namun  potensial menimbulkan  bahaya  kesehatan.  Sebagian  besar  dampak  yang  diakibatkannya  memang berdampak  jangka  panjang,  seperti  kanker,  kerusakan  saraf,  gangguan  reproduksi  dan  lain - lain.
Sifat  racun  sintetis  yang  tidak  berbau  dan  berwarna,  dan  dampak  kesehatannya  yang berjangka  panjang,  membuatnya  lepas  dari  perhatian  kita.  Kita  lebih  risau  dengan  gangguan   yang  langsung  bisa  dirasakan  oleh  panca  indera  kita.
Hal  ini  terlebih  dalam  kasus  sampah,  di  mana  gangguan  bau  yang  menusuk  dan  pemandangan  (keindahan/kebersihan)  sangat  menarik  perhatian  panca  indera  kita.  Begitu dominannya  gangguan  bau  dan  pemandangan  dari  sampah  inilah  yang  telah  mengalihkan  kita dari bahaya racun dari sampah, yang lebih mengancam kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita.

B.     RUMUSAN  MASALAH
Berdasarkan  latar  belakang  diatas,  maka  rumusan  masalah  pada  penelitian  ini  adalah :
1.      Apakah  yang  di  maksud  dengan  sampah?
2.      Apa  saja  bagian    bagian  sampah?
3.      Bagaimana  dampak  sampah  bagi  kehidupan?
4.      Bagaimana  bahaya  sampah  plastic  bagi  kesehatan  dan  lingkungan?
5.      Bagaimana  cara  mengurangi  sampah?
6.      Apa  yang  di  maksud  dengan  prinsip  produksi  bersih?

C.    TUJUAN PENELITIAN:
Untuk  mengetahui  bahaya  racun  yang  ditimbulkan  oleh  sampah.
Saat  ini  sampah  telah  banyak  berubah.  Setengah  abad  yang lalu  masyarakat  belum banyak  mengenal  plastik.  Mereka  lebih  banyak  menggunakan  berbagai  jenis   bahan organis.
Di masa  1980-an  orang  masih  menggunakan  tas  belanja  dan  membungkus  daging dengan  daun  jati.  Sedangkan  sekarang  kita  berhadapan  dengan  sampah - sampah  jenis  baru,  khususnya  berbagai  jenis  plastik.  Sifat  plastik  dan  bahan  organis  sangat  berbeda. Bahan  organis  mengandung  bahan - bahan  alami  yang  bisa  diuraikan  oleh  alam  dengan  berbagai  cara,  bahkan  hasil  penguraiannya  berguna  untuk  berbagai  aspek  kehidupan.
Sampah  plastic  dibuat  dari  bahan  sintetis,  umumnya  menggunakan  minyak  bumi  sebagai  bahan  dasar,  ditambah  bahan - bahan  tambahan  yang  umumnya  merupakan  logam  berat (kadnium,  timbal,  nikel)  atau  bahan  beracun  lainnya  seperti  Chlor.  Racun dari  plastik  ini  terlepas  pada  saat  terurai  atau  terbakar.
Penguraian  plastic  akan  melepaskan  berbagai  jenis  logam  berat  dan  bahan  kimia  lain  yang  dikandungnya.  Bahan  kimia  ini  terlarut  dalam  air  atau  terikat  di  tanah,  dan kemudian  masuk  ke  tubuh  kita  melalui  makanan  dan  minuman.
Sedangkan  pembakaran  plastic  menghasilkan  salah  satu  bahan  paling  berbahaya  di  dunia, yaitu  Dioksin.  Dioksin  adalah  salah  satu  dari  sedikit  bahan  kimia  yang  telah  diteliti  secara  intensif  dan  telah  dipastikan  menimbulkan  Kanker.  Bahaya  dioksin  sering disejajarkan  dengan  DDT,  yang  sekarang  telah  dilarang  di  seluruh  dunia.  Selain  dioksin,  abu  hasil  pembakaran  juga  berisi  berbagai  logam  berat  yang  terkandung  di  dalam  plastik.

D.    MANFA’AT  PENELITIAN
Dengan  adanya  penelitian  ini  diharapkan  akan  memberikan  manfa’at  yaitu :
Dapat  mengetahui  sampah  yang  ada  di  Indonesia,  bagian - bagiannya,  dampak  yang ditimbulkannya,  bahayanya  bagi  kesehatan  dan  lingkungan  khususnya  sampah  plasik,  cara mengurangi  dan  mengerti  tentang  prinsip  produksi  bersih.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    TEORI
1.      Pengertian  Sampah
Sampah  adalah  bahan  yang  tidak  mempunyai  nilai  atau  tidak  berharga  untuk maksud  biasa  atau  utama  dalam  pembikinan  atau  pemakaian  barang  rusak  atau  bercacat  dalam  pembikinan  manufaktur  atau  materi  berkelebihan  atau  ditolak  atau  buangan”. Sampah  adalah  suatu  bahan  yang  terbuang  atau  dibuang  dari  sumber  hasil  aktivitas  manusia  maupun  proses  alam  yang  belum  memiliki  nilai  ekonomis.”  (Istilah  Lingkungan untuk  Manajemen,  Ecolink,  1996).  Berangkat  dari  pandangan  tersebut  sehingga  sampah  dapat  dirumuskan  sebagai  bahan  sisa  dari  kehidupan  sehari – hari  masyarakat.  Sampah yang  harus  dikelola  tersebut  meliputi  sampah  yang  dihasilkan  dari:
1.      Rumah  tangga
2.      kegiatan  komersial:  pusat  perdagangan,  pasar,  pertokoan,  hotel,  restoran,  tempat  hiburan.
3.      fasilitas  sosial:  rumah  ibadah,  asrama,  rumah  tahanan/penjara,  rumah  sakit,  klinik,  Puskesmas
4.      fasilitas  umum:  terminal,  pelabuhan,  bandara,  halte  kendaraan  umum,  taman,  jalan,
5.      Industri
6.      hasil  pembersihan  saluran  terbuka  umum,  seperti  sungai,  danau,  pantai.
Sampah  padat  pada  umumnya  dapat  di  bagi  menjadi  dua  bagian
Ø  Sampah  Organik
Sampah  organik  (biasa  disebut  sampah  basah)  dan  sampah  anorganik  (sampah  kering). Sampah  Organik  terdiri  dari  bahan - bahan  penyusun  tumbuhan  dan  hewan  yang  diambil  dari  alam  atau  dihasilkan  dari  kegiatan  pertanian,  perikanan  atau  yang  lain.
Sampah  ini dengan  mudah  diuraikan  dalam  proses  alami.  Sampah  rumah  tangga  sebagian  besar  merupakan  bahan  organik,  misalnya  sampah  dari  dapur,  sisa  tepung,  sayuran  dll.
Ø  Sampah  Anorganik
Sampah  Anorganik  berasal  dari  sumber  daya  alam  tak  terbarui  seperti  mineral  dan  minyak  bumi,  atau  dari  proses  industri.  Beberapa  dari  bahan  ini  tidak  terdapat  di  alam  seperti  plastik  dan  aluminium.  Sebagian  zat  anorganik  secara  keseluruhan  tidak  dapat diuraikan  oleh  alam,  sedang  sebagian  lainnya  hanya  dapat  diuraikan  dalam  waktu  yang  sangat  lama.  Sampah  jenis  ini  pada  tingkat  rumah  tangga,  misalnya  berupa  tas  plastic  dan  botol  kaleng
Kertas,  koran,  dan  karton  merupakan  pengecualian.  Berdasarkan  asalnya,  kertas,  koran,  dan  karton  termasuk  sampah  organik.  Tetapi  karena  kertas,  koran,  dan  karton  dapat  didaur  ulang  seperti  sampah  anorganik  lain  (misalnya  gelas,  kaleng,  dan  plastik),  maka dimasukkan  ke  dalam  kelompok  sampah  anorganik. 
2.      Dampak  Sampah  bagi  Manusia  dan  lingkungan
Sudah  kita  sadari  bahwa  pencemaran  lingkungan  akibat  perindustrian  maupun  rumah  tangga  sangat  merugikan  manusia,  baik  secara  langsung  maupun  tidak  langsung.  Melalui kegiatan  perindustrian  dan  teknologi  diharapkan  kualitas  kehidupan  dapat  lebih  ditingkatkan.  Namun  seringkali  peningkatan  teknologi  juga  menyebabkan  dampak  negatif yang  tidak  sedikit.

Dampak  bagi  kesehatan
Lokasi  dan  pengelolaan  sampah  yang  kurang  memadai  (pembuangan  sampah  yang  tidak terkontrol)  merupakan  tempat  yang  cocok  bagi  beberapa  organisme  dan  menarik  bagi  berbagai  binatang  seperti  lalat  dan  anjing  yang  dapat  menimbulkan  penyakit.
Potensi  bahaya  kesehatan  yang  dapat  ditimbulkan  adalah  sebagai  berikut:
o   Penyakit  diare,  kolera,  tifus  menyebar  dengan  cepat  karena  virus  yang  berasal  dari  sampah  dengan  pengelolaan  tidak  tepat  dapat  bercampur  air  minum.  Penyaki t demam berdarah  (haemorhagic  fever)  dapat  juga  meningkat  dengan  cepat  di  daerah  yang  pengelolaan  sampahnya  kurang  memadai.
o   Penyakit  jamur  dapat  juga  menyebar  (misalnya  jamur  kulit).
o   Penyakit  yang  dapat  menyebar  melalui  rantai  makanan.  Salah  satu  contohnya  adalah suatu  penyakit  yang  dijangkitkan  oleh  cacing  pita  (taenia). 
Cacing  ini  sebelumnya  masuk ke  dalam  pencernakan  binatang  ternak  melalui  makanannya  yang  berupa  sisa  makanan/sampah.
o   Sampah  beracun:  Telah  dilaporkan  bahwa  di  Jepang  kira - kira  40.000  orang  meninggal akibat  mengkonsumsi  ikan  yang  telah  terkontaminasi  oleh  raksa  (Hg).  Raksa  ini  berasal  dari  sampah  yang  dibuang  ke  laut  oleh  pabrik  yang  memproduksi  baterai  dan  akumulator.
Dampak  Terhadap  Lingkungan
Cairan  rembesan  sampah  yang  masuk  ke  dalam  drainase  atau  sungai  akan  mencemari  air. Berbagai  organisme  termasuk  ikan  dapat  mati  sehingga  beberapa  spesies  akan  lenyap,  hal  ini  mengakibatkan  berubahnya  ekosistem  perairan  biologis.  Penguraian  sampah  yang dibuang  ke  dalam  air  akan  menghasilkan  asam  organic  dan  gas - cair  organik,  seperti  metana.  Selain  berbau  kurang  sedap,  gas  ini  dalam  konsentrasi  tinggi  dapat  meledak.
Dampak  terhadap  keadaan social  dan  ekonomi
o   Pengelolaan  sampah  yang  kurang  baik  akan  membentuk  lingkungan  yang  kurang menyenangkan  bagi  masyarakat:  bau  yang  tidak  sedap  dan  pemandangan  yang  buruk  karena  sampah  bertebaran  dimana - mana.
o   Memberikan  dampak  negatif  terhadap  kepariwisataan.
o   Pengelolaan  sampah  yang  tidak  memadai  menyebabkan  rendahnya  tingkat  kesehatan masyarakat.  Hal  penting  di  sini  adalah  meningkatnya  pembiayaan  secara  langsung  (untuk mengobati  orang  sakit)  dan  pembiayaan  secara  tidak  langsung  (tidak  masuk  kerja,  rendahnya  produktivitas).
o   Pembuangan  sampah  padat  ke  badan  air  dapat  menyebabkan  banjir  dan  akan  memberikan  dampak  bagi  fasilitas  pelayanan  umum  seperti  jalan,  jembatan,  drainase,  dan  lain - lain.
o   Infrastruktur  lain  dapat  juga  dipengaruhi  oleh  pengelolaan  sampah  yang  tidak  memadai, seperti  tingginya  biaya  yang  diperlukan  untuk  pengolahan  air.  Jika  sarana  penampungan  sampah  kurang  atau  tidak  efisien,  orang  akan  cenderung  membuang  sampahnya  di  jalan. Hal  ini  mengakibatkan  jalan  perlu  lebih  sering  dibersihkan  dan  diperbaiki.

3.      Bahaya  Sampah  Plastik  bagi  Kesehatan  dan  Lingkungan
NETIZEN   Salah  satu  faktor  yang  menyebabkan  rusaknya  lingkungan  hidup  yang  sampai saat  ini  masih  tetap  menjadi  “PR”  besar  bagi  bangsa  Indonesia  adalah  faktor  pembuangan  limbah  sampah  plastik.  Kantong  plastic  telah  menjadi  sampah  yang  berbahaya  dan  sulit dikelola.
Diperlukan  waktu  puluhan  bahkan  ratusan  tahun  untuk  membuat  sampah  bekas  kantong plastic  itu  benar - benar  terurai.  Namun  yang  menjadi  persoalan  adalah  dampak  negatif sampah  plastic  ternyata  sebesar  fungsinya  juga.  Dibutuhkan  waktu  1000  tahun  agar  plastik  dapat  terurai  oleh  tanah  secara  terdekomposisi  atau  terurai  dengan  sempurna.  Ini adalah  sebuah  waktu  yang  sangat  lama.  Saat  terurai,  partikel - partikel  plastik  akan  mencemari  tanah  dan  air  tanah.
Jika  dibakar,  sampah  plastic  akan  menghasilkan  asap  beracun  yang  berbahaya  bagi kesehatan  yaitu  jika  proses  pembakaranya  tidak  sempurna,  plastik  akan  mengurai  di  udara sebagai  dioksin.  Senyawa  ini  sangat  berbahaya  bila  terhirup  manusia.  Dampaknya  antara lain  memicu  penyakit  kanker,  hepatitis,  pembengkakan  hati,  gangguan  system  saraf  dan  memicu  depresi.  Kantong  plastic  juga  penyebab  banjir,  karena  menyumbat  saluran - saluran  air,  tanggul.  Sehingga  mengakibatkan  banjir  bahkan  yang  terparah  merusak  turbin waduk.
Diperkirakan  500  juta  hingga  satu  miliar  kantong  plastik  digunakan  di  dunia  tiap tahunnya.  Jika  sampah – sampah  ini  dibentangkan  maka,  dapat  membukus  permukaan  bumi  setidaknya  hingga  10  kali  lipat!  Coba  anda  bayangkan  begitu  fantastisnya  sampah plastik  yang  sudah  terlampau  menggunung  di  bumi  kita  ini.  Dan  tahukah  anda ?  Setiap  tahun,  sekitar  500  milyar    1  triliyun  kantong  plastic  digunakan  di  seluruh  dunia. Diperkirakan  setiap  orang  menghabiskan  170  kantong  plastic  setiap  tahunnya  (coba  kalikan  dengan  jumlah  penduduk  kotamu!)  Lebih  dari  17  milyar  kantong  plastik  dibagikan  secara  gratis  oleh  supermarket  di  seluruh  dunia  setiap  tahunnya.  Kantong  plastic  mulai  marak  digunakan  sejak  masuknya  supermarket  di  kota - kota  besar.
Sejak  proses  produksi  hingga  tahap  pembuangan,  sampah  plastic  mengemisikan  gas  rumah kaca  ke  atmosfer.  Kegiatan  produksi  plastic  membutuhkan  sekitar  12  juta  barel  minyak  dan  14  juta  pohon  setiap  tahunnya.  Proses  produksinya  sangat  tidak  hemat  energi.  Pada tahap  pembuangan  di  lahan  penimbunan  sampah  (TPA),  sampah  plastik  mengeluarkan  gas rumah  kaca.
4.      Usaha  Pengendalian  Sampah
Untuk  menangani  permasalahan  sampah  secara  menyeluruh  perlu  dilakukan  alternatif pengolahan  yang  benar.  Teknologi  landfill  yang  diharapkan  dapat  menyelesaikan  masalah lingkungan  akibat  sampah,  justru  memberikan  permasalahan  lingkungan  yang  baru. Kerusakan  tanah,  air  tanah,  dan air  permukaan  sekitar  akibat  air  lindi,  sudah  mencapai  tahap  yang  membahayakan  kesehatan  masyarakat,  khususnya  dari  segi  sanitasi  lingkungan.
Gambaran  yang  paling  mendasar  dari  penerapan  teknologi  lahan  urug  saniter  (sanitary landfill)  adalah  kebutuhan  lahan  dalam  jumlah  yang  cukup  luas  untuk  tiap  satuan  volume sampah  yang  akan  diolah.  Teknologi  ini  memang  direncanakan  untuk  suatu  kota  yang memiliki  lahan  dalam  jumlah  yang  luas  dan  murah.
Pada  kenyataannya  lahan  di  berbagai  kota  besar  di  Indonesia  dapat  dikatakan  sangat  terbatas  dan  dengan  harga  yang  tinggi pula.  Dalam  hal  ini,  penerapan  lahan  urug  saniter  sangatlah  tidak  sesuai.
Berdasarkan  pertimbangan  di  atas,  dapat  diperkirakan  bahwa  teknologi  yang  paling  tepat untuk  pemecahan  masalah  di  atas,  adalah  teknologi  pemusnahan  sampah  yang  hemat  dalam  penggunaan  lahan.  Konsep  utama  dalam  pemusnahan  sampah  selaku  buangan  padat adalah  reduksi  volume  secara  maksimum.  Salah  satu  teknologi  yang  dapat  menjawab  tantangan  tersebut  adalah  teknologi  pembakaran  yang  terkontrol  atau  insinerasi,  dengan menggunakan  insinerator.  Teknologi  insinerasi  membutuhkan  luas  lahan  yang  lebih  hemat,  dan  disertai  dengan  reduksi  volume  residu  yang  tersisa  ( fly  ash  dan  bottom  ash ) dibandingkan  dengan  volume  sampah  semula.  Ternyata  pelaksanaan  teknologi  ini  justru lebih  banyak  memberikan  dampak  negative  terhadap  lingkungan  berupa  pencemaran  udara. Produk  pembakaran  yang  terbentuk  berupa  gas  buang  COx,  NOx,  SOx,  partikulat,  dioksin,  furan,  dan  logam  berat  yang  dilepaskan  ke  atmosfer  harus  dipertimbangkan. Selain  itu  proses  insinerator  menghasilakan  Dioxin  yang  dapat  menimbulkan  gangguan kesehatan,  misalnya  kanker,  system kekebalan,  reproduksi,  dan  masalah  pertumbuhan.
Global  Anti - Incenatot  Alliance  (GAIA)  juga  menyebutkan  bahwa  incinerator  juga merupakan  sumber  utama  pencemaran  Merkuri.  Merkuri  merupakan  racun  saraf  yang  sangat  kuat,  yang  mengganggu  sistem  motorik,  sistem  panca  indera  dan  kerja  sistem kesadaran.
Belajar  dari  kegagalan  program  pengolahan  sampah  di  atas,  maka  paradigma  penanganan sampah  sebagai  suatu  produk  yang  tidak  lagi  bermanfaat  dan  cenderung  untuk  dibuang  begitu  saja  harus  diubah.  Produksi  Bersih  (Clean  Production)  merupakan  salah  satu pendekatan  untuk  merancang  ulang  industri  yang  bertujuan  untuk  mencari  cara - cara pengurangan  produk - produk  samping  yang  berbahaya,  mengurangi  polusi  secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis.
5.      Prinsip - prinsip  Produksi  Bersih 
Prinsip - prinsip  yang  juga  bisa  diterapkan  dalam  keseharian,  misalnya,  dengan  menerapkan  Prinsip  4R,  yaitu:
Reduce  (Mengurangi);  sebisa  mungkin  lakukan  minimalisasi  barang  atau  material yang  kita  pergunakan.  Semakin  banyak  kita  menggunakan  material,  semakin  banyak  sampah  yang  dihasilkan.
            Re-use  (Memakai  kembali);  sebisa  mungkin  pilihlah  barang - barang  yang  bisa dipakai  kembali.  Hindari  pemakaian  barang - barang  yang  disposable  (sekali  pakai,  buang).  Hal  ini  dapat  memperpanjang  waktu  pemakaian  barang  sebelum  ia  menjadi  sampah.
            Recycle  (Mendaur  ulang);  sebisa  mungkin,  barang - barang  yang  sudah  tidak berguna  lagi,  bisa  didaur  ulang. 
Tidak  semua  barang  bisa  didaur  ulang,  namun  saat  ini  sudah  banyak  industri  non - formal  dan  industri  rumah  tangga  yang  memanfaatkan  sampah menjadi  barang  lain.  Teknologi  daur  ulang,  khususnya  bagi  sampah  plastik,  sampah  kaca,  dan  sampah  logam,  merupakan  suatu  jawaban  atas  upaya  memaksimalkan  material  setelah menjadi  sampah,  untuk  dikembalikan  lagi  dalam  siklus  daur  ulang  material  tersebut.
Replace  ( Mengganti);  teliti  barang  yang  kita  pakai  sehari - hari.  Gantilah  barang barang  yang  hanya  bisa  dipakai  sekali  dengan  barang  yang  lebih  tahan  lama.  Juga  telitilah   agar  kita  hanya  memakai  barang – barang  yang  lebih  ramah  lingkungan,  Misalnya,  ganti  kantong  keresek  kita  dengan  keranjang  bila  berbelanja,  dan  jangan pergunakan  Styrofoam  karena  kedua  bahan  ini  tidak  bisa  didegradasi  secara  alami.
Selain  itu,  untuk  menunjang  pembangunan  yang  berkelanjutan  ( sustainable  development ), saat  ini  mulai  dikembangkan  penggunaan  pupuk  organic  yang  diharapkan  dapat  mengurangi  penggunaan  pupuk  kimia  yang  harganya  kian  melambung.  Penggunaan  kompos  telah  terbukti  mampu  mempertahankan  kualitas  unsure  hara  tanah,  meningkatkan waktu  retensi  air  dalam  tanah,  serta  mampu  memelihara  mikroorganisme  alami  tanah  yang  ikut  berperan  dalam  proses  adsorpsi  humus  oleh  tanaman.
Penggunaan  kompos  sebagai  produk  pengolahan  sampah  organik  juga  harus  diikuti  dengan kebijakan  dan  strategi  yang  mendukung.  Pemberian  insentif  bagi  para  petani  yang  hendak mengaplikasikan  pertanian  organic  dengan  menggunakan  pupuk  kompos,  akan  mendorong petani  lainnya  untuk  menjalankan  system  pertanian  organik.  Kelangkaan  dan  makin membubungnya  harga  pupuk  kimia  saat  ini,  seharusnya  dapat  dimanfaatkan  oleh  pemerintah  untuk  mengembangkan  system  pertanian  organik.
6.      Peran  Pemerintah  dalam  Menangani  Sampah
Dari  perkembangan  kehidupan  masyarakat  dapat  disimpulkan  bahwa  penanganan  masalah sampah  tidak  dapat  semata - mata  ditangani  oleh  Pemerintah  Daerah  (Pemerintah Kabupaten/Kota).  Pada  tingkat  perkembangan  kehidupan  masyarakat  dewasa  ini memerlukan  pergeseran  ke  pendekatan  sumber  dan  perubahan  paradigma  yang  pada gilirannya  memerlukan  adanya  campur  tangan  dari  Pemerintah. Pengelolaan  sampah  meliputi  kegiatan  pengurangan,  pemilahan,  pengumpulan,  pemanfaatan,  pengangkutan,  pengolahan.  Berangkat  dari  pengertian  pengelolaan  sampah dapat  disimpulkan  adanya  dua  aspek,  yaitu  penetapan  kebijakan  (beleid,  policy)  pengelolaan  sampah,  dan  pelaksanaan  pengelolaan  sampah.Kebijakan  pengelolaan  sampah  harus  dilakukan  oleh  Pemerintah  Pusat  karena  mempunyai cakupan  nasional.  Kebijakan  pengelolaan  sampah  ini  meliputi :
Penetapan  instrumen  kebijakan : instrumen  regulasi: penetapan  aturan  kebijakan  (beleidregels),  undang - undang  dan  hukum yang  jelas  tentang  sampah  dan  perusakan  lingkungan  instrumen  ekonomik:  penetapan  instrumen  ekonomi  untuk  mengurangi  beban  penanganan  akhir  sampah  (system  insentif dan  disinsentif)  dan pemberlakuan  pajak  bagi  perusahaan  yang  menghasilkan  sampah,  serta  melakukan  uji dampak  lingkungan.
Mendorong  pengembangan  upaya  mengurangi  (reduce),  memakai  kembali  (re - use),  dan  mendaur – ulang (recycling)  sampah,  dan  mengganti  (replace), Pengembangan  produk  dan  kemasan  ramah lingkungan,  Pengembangan  teknologi,  standar dan  prosedur  penanganan  sampah: Penetapan  kriteria  dan  standar  minimal penentuan   lokasi penanganan akhir  sampah,  penetapan  lokasi  pengolahan  akhir  sampah,  luas  minimal  lahan  untuk  lokasi  pengolahan  akhir  sampah,  penetapan  lahan  penyangga.
7.      Kompos,  Alternatif  Problem  Sampah
Sampah  terdiri  dari  dua  bagian,  yaitu  bagian  organic  dan  anorganik.  Rata - rata  persentase bahan  organik  sampah  mencapai  ±80%,  sehingga  pengomposan  merupakan  alternatif penanganan  yang   sesuai.  Pengomposan  dapat  mengendalikan  bahaya  pencemaran  yang mungkin  terjadi  dan  menghasilkan  keuntungan. Teknologi  pengomposan  sampah  sangat beragam,  baik  secara  aerobic  maupun  anaerobik,  dengan  atau  tanpa  bahan  tambahan.
Pengomposan  merupakan  penguraian  dan  pemantapan  bahan – bahan  organik  secara biologis  dalam  temperature  thermophilic  (suhu  tinggi)  dengan  hasil  akhir  berupa  bahan yang  cukup  bagus  untuk  diaplikasikan  ke  tanah.  Pengomposan  dapat  dilakukan  secara  bersih  dan  tanpa  menghasilkan  kegaduhan  di  dalam  maupun  di  luar  ruangan.
Teknologi  pengomposan  sampah  sangat  beragam,  baik  secara  aerobik  maupun  anaerobik, dengan  atau  tanpa  bahan  tambahan.  Bahan  tambahan  yang  biasa  digunakan  Activator  Kompos  seperti  Green  Phoskko  Organic  Decomposer  dan  SUPERFARM  (Effective  Microorganism)  atau  menggunakan  cacing  guna  mendapatkan  kompos  (vermicompost). Keunggulan  dari  proses  pengomposan  antara  lain  teknologinya  yang  sederhana,  biaya penanganan  yang  relatif  rendah,  serta  dapat  menangani  sampah  dalam  jumlah  yang  banyak  (tergantung  luasan  lahan).
Pengomposan  secara  aerobik  paling  banyak  digunakan,  karena  mudah  dan  murah  untuk dilakukan,  serta  tidak  membutuhkan  control  proses  yang  terlalu  sulit.  Dekomposisi  bahan dilakukan  oleh  mikroorganisme  di  dalam  bahan  itu  sendiri  dengan  bantuan  udara. Sedangkan  pengomposan  secara  anaerobic  memanfaatkan  mikroorganisme  yang  tidak membutuhkan  udara  dalam  mendegradasi  bahan  organik.
Hasil  akhir  dari  pengomposan  ini  merupakan  bahan  yang  sangat  dibutuhkan  untuk kepentingan  tanah - tanah  pertanian  di  Indonesia,  sebagai  upaya  ntuk  memperbaiki  sifat kimia,  fisika  dan  biologi  tanah, sehingga  produksi  tanaman  menjadi  lebih  tinggi.  Kompos yang  dihasilkan  dari  pengomposan  sampah  dapat  digunakan  untuk  menguatkan  struktur lahan  kritis,  menggemburkan  kembali  tanah  pertanian,  menggemburkan  kembali  tanah pertamanan,  sebagai  bahan  penutup  sampah  di  TPA,  eklamasi  pantai  pasca  penambangan, dan  sebagai  media  tanaman,  serta  mengurangi  penggunaan  pupuk  kimia. Bahan  baku  pengomposan  adalah  semua  material  organik  yang  mengandung  karbon  dan nitrogen,  seperti  kotoran  hewan,  sampah  hijauan,  sampah  kota,  lumpur  cair  dan  limbah industri  pertanian.

BAB III
 METEDOLOGI  PENELITIAN
Sampah  merupakan  material  sisa  yang  tidak  diinginkan  setelah  berakhirnya  suatu  proses. Sampah  merupakan  konsep  buatan  manusia,  dalam  proses - proses  alam  tidak  ada  sampah,  yang  ada  hanya  produk - produk  yang  tak  bergerak.
Sampah  dapat  berada  pada  setiap  fase  materi:  padat,  cair,  atau  gas.  Ketika  dilepaskan dalam  dua  fase  yang  disebutkan  terakhir,  terutama  gas,  sampah  dapat  dikatakan  sebagai  emisi.  Emisi  biasa  dikaitkan  dengan  polusi.
Dalam  kehidupan  manusia,  sampah  dalam  jumlah  besar  datang  dari  aktivitas  industri (dikenal  juga  dengan  sebutan  limbah),  misalnya  pertambangan,  manufaktur,  dan  konsumsi. Hampir  semua  produk  industry  akan  menjadi  sampah  pada  suatu  waktu,  dengan  jumlah sampah  yang  kira - kira  mirip  dengan  jumlah  konsumsi.  Upaya  yang  dilakukan  pemerintah  dalam  usaha  mengatasi  masalah  sampah  yang  saat  ini  mendapatkan  tanggapan  pro  dan kontra  dari  masyarakat  adalah  pemberian  pajak  lingkungan  yang  dikenakan  pada  setiap  produk  industry  yang  akhirnya  akan  menjadi  sampah.  Industri  yang  menghasilkan  produk dengan  kemasan,  tentu  akan  memberikan  sampah  berupa  kemasan  setelah  dikonsumsi  oleh konsumen.  Industri  diwajibkan  membayar  biaya  pengolahan  sampah  untuk  setiap  produk yang  dihasilkan,  untuk  penanganan  sampah  dari  produk  tersebut.  Dana  yang  terhimpun  harus  dibayarkan  pada  pemerintah  selaku  pengelola  IPS  untuk  mengolah  sampah  kemasan yang  dihasilkan.  Pajak  lingkungan  ini  dikenal  sebagai  Polluters  Pay  Principle.  Solusi  yang diterapkan  dalam  hal  sistem  penanganan  sampah  sangat  memerlukan  dukungan  dan komitmen  pemerintah.  Tanpa  kedua  hal  tersebut,  sistem  penanganan  sampah  tidak  akan  lagi  berkesinambungan.
Tetapi  dalam  pelaksanaannya  banyak  terdapat  benturan,  di  satu  sisi,  pemerintah  memiliki keterbatasan  pembiayaan  dalam  sistem  penanganan  sampah.  Namun  di  sisi  lain,  masyarakat  akan  membayar  biaya  sosial  yang  tinggi  akibat  rendahnya  kinerja  sistem penanganan  sampah.  Sebagai  contoh,  akibat  tidak  tertanganinya  sampah  selama  beberapa  hari   di  Kota  Bandung,  tentu  dapat  dihitung  berapa  besar  biaya  pengelolaan  lingkungan yang  harus  dikeluarkan  akibat  pencemaran  udara  ( akibat  bau )  dan  air  lindi,  berapa  besar  biaya  pengobatan  masyarakat  karena  penyakit  bawaan  sampah  ( municipal  solid  waste borne  disease ),  hingga  menurunnya  tingkat  produktifitas  masyarakat  akibat  gangguan  bau sampah. 

BAB IV
         
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan  hasil  penelitian  tentang  sampah  yang  ada  di  Indonesia  serta  seluk beluknya  dapat  disimpulkan  sebagai  berikut :
1.      Sampah  adalah  suatu  bahan  yang  terbuang  atau  dibuang  dari  sumber  hasil  aktivitas manusia  maupun  proses  alam  yang  belum  memiliki  nilai  ekonomis.
2.      Pembakaran  plastik  menghasilkan  salah  satu  bahan  paling  berbahaya  di  dunia,  yaitu  Dioksin.  Selain  dioksin,  abu  hasil  pembakaran  juga  berisi  berbagai  logam berat  yang  terkandung  di  dalam  plastik.
3.      Sebagian  zat  anorganik  secara  keseluruhan  tidak  dapat  diuraikan  oleh  alam,  sedang sebagian  lainnya  hanya  dapat  diuraikan  dalam  waktu  yang  sangat  lama.
4.      Penyakit  diare,  kolera,  tifus  menyebar  dengan  cepat  karena  virus  yang  berasal  dari sampah  dengan  pengelolaan  tidak  tepat  dapat  bercampur  air minum.
5.      Cairan  rembesan  sampah  yang  masuk  ke  dalam  drainase  atau  sungai  akan mencemari  air.  Berbagai  organisme  termasuk  ikan  dapat  mati  sehingga  beberapa spesies  akan  lenyap,  hal  ini  mengakibatkan  berubahnya  ekosistem  perairan  biologis.
6.      Pembuangan  sampah  padat  ke  badan  air  dapat  menyebabkan  banjir  dan  akan  memberikan  dampak  bagi  fasilitas  pelayanan  umum   seperti  jalan,  jembatan,  drainase,  dan  lain - lain.
7.      Dibutuhkan  waktu  1000  tahun  agar  plastic  dapat  terurai  oleh  tanah  secara terdekomposisi atau  terurai  dengan  sempurna.
8.      Setiap  tahun,  sekitar  500  milyar    1  triliyun  kantong  plastic  digunakan  di  seluruh  dunia. Diperkirakan  setiap  orang  menghabiskan  170  kantong  plastic  setiap  tahunnya
9.      Produksi  Bersih  (Clean  Production)  merupakan  salah  satu pendekatan  untuk  merancang  ulang  industri  yang  bertujuan  untuk  mencari  cara - cara pengurangan  produk - produk  samping  yang  berbahaya,  mengurangi  polusi  secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis.
10.  Pengomposan  merupakan  penguraian  dan  pemantapan  bahan – bahan  organik  secara biologis  dalam  temperature  thermophilic  (suhu  tinggi)  dengan  hasil  akhir  berupa  bahan yang  cukup  bagus  untuk  diaplikasikan  ke  tanah.  Pengomposan  dapat  dilakukan  secara  bersih  dan  tanpa  menghasilkan  kegaduhan  di  dalam  maupun  di  luar  ruangan.

B.     Saran
1.      Cara  pengendalian  sampah  yang  paling  sederhana  adalah  dengan  menumbuhkan  kesadaran  dari  dalam  diri  untuk  tidak  merusak  lingkungan  dengan  sampah.  Selain  itu  diperlukan  juga  control  sosial  budaya  masyarakat  untuk  lebih  menghargai  lingkungan,  walaupun  kadang  harus  dihadapkan  pada  mitos  tertentu.  Peraturan  yang  tegas  dari  pemerintah  juga  sangat  diharapkan  karena  jika  tidak  maka  para  perusak  lingkungan  akan  terus  merusak  sumber  daya.
2.      Keberadaan  Undang  -  Undang  persampahan  dirasa  sangat  perlukan.  Undang  -  Undang  ini  akan  mengatur  hak,  kewajiban,  wewenang,  fungsi  dan  sanksi  masing  -  masing  pihak.  UU  juga  akan  mengatur  soal  kelembagaan  yang  terlibat  dalam  penanganan  sampah.  Menurut  dia,  tidak  mungkin  konsep  pengelolaan  sampah  berjalan  baik  di  lapangan  jika  secara  infrastruktur  tidak  didukung  oleh  departemen  -  departemen  yang  ada  dalam  pemerintahan.
3.      Demikian  pula  pengembangan  sumber  daya  manusia  (SDM).  Mengubah  budaya  masyarakat  soal  sampah  bukan  hal  gampang.  Tanpa  ada  transformasi  pengetahuan,  pemahaman,  kampanye  yang  kencang.  Ini  tak  bisa  dilakukan  oleh  pejabat  setingkat
4.      Kepala  Dinas  seperti  terjadi  sekarang.  Itu  harus  melibatkan  dinas  pendidikan  dan  kebudayaan,  departemen  agama,  dan  mungkin  Depkominfo.
5.      Di  beberapa  negara,  seperti  Filipina,  Kanada,  Amerika  Serikat,  dan  Singapura  yang  mengalami persoalan  serupa  dengan  Indonesia,  sedikitnya  14  departemen  dilibatkan  di  bawah  koordinasi  langsung  presiden  atau  perdana  menteri.

Followers